BAIT Ministry

HUT BAIT ke 1 di Megamendung Bogor

Kunjungan ke Jemaat Sentul dan Panti Asuhan di Bogor dalam rangka HUT BAIT Ministry ke 1.

BAIT Ministry di Toraja

Kunjungan BAIT Ministry ke SLA Mebali dan berbagai tempat wisata dalam rangka HUT BAIT ke 3.

Kunjungan BAIT Ministry ke Palu

Kunjungan BAIT Ministry ke Palu Dalam Rangka HUT BAIT Ministry ke 4.

KKR Bait Ministry di Kotamobagu

KKR BAIT Ministry di Kotamobagu Dalam Rangka HUT BAIT Ministry ke 5.

Baptisan BAIT Ministry di Kotamobagu

Baptisan Setelah KKR Dalam Rangka HUT BAIT Ministry ke 5 di Kotamobagu.

Sabtu, 12 April 2025

PUKAT: KEGIATAN GEREJA DI AKHIR ZAMAN

PUKAT: KEGIATAN GEREJA DI AKHIR ZAMAN

Oleh : Pdt. Bryan Sumendap

 



Di dalam Injil Matius, teristimewa di dalam pasal 13, kita temukan beberapa perumpamaan yang membuat referensi kepada Kerajaan Surga. Salah satu dari perumpamaan itu adalah Perumpamaan mengenai pukat, ayat 47-52:

47 "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. 48 Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. 49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, 50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. 51 Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti." 52 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya." 

Perumpamaan ini, sama seperti perumpamaan Gandum dan Ilalang (Mat. 13:24-30), menghindari suatu separatisme yang mencegah umat Allah untuk bergaul dengan orang-orang di dunia. Kita harus menjadi orang-orang yang berada di dalam dunia tetapi bukan dari dunia. Perumpamaan ini kadang kita baca, padahal mengandung makna begitu penting bagi orang-orang Kristen masa kini. 

Jika kita perhatikan dengan seksama, perumpamaan ini bukan berurusan dengan transisi dari baik menjadi jahat, atau sebaliknya jahat menjadi baik, tetapi menunjukkan bahwa kedua-duanya ada di dunia ini. Yesus bukan berupaya untuk menciptakan sekte Israel berdiri di atas seluruh penghuni dunia yang lain. Sebaliknya, Dia makan dengan orang-orang berdosa, agar murid-muridNya akan merobah pandangan orang tidak percaya menjadi percaya. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa ada variasi antara kejahatan. Manusia semua adalah orang berdosa, tetapi tidak semua orang berdosa sama. 

Pada zaman Yesus, para nelayan yang mempunyai penghidupan di Laut Galilea menggunakan dua macam pukat atau jala setiap hari. Jadi orang-orang yang mendengar perumpamaan ini mengerti dengan benar artinya. Ada jala yang dilempar dari atas dan ada juga jala yang ditarik ke pantai. Melihat bahasa aslinya sagene, berarti Yesus menggunakan pukat yang ditarik ke pantai. Pukat ini biasanya cukup panjang, mempunyai pelampung di atas dan pemberat timah di bawah. Bisa ditarik antara dua perahu atau dilepas dari sebuah perahu, kemudian di tarik ke pantai. Dengan cara seperti itu, jala itu akan mengumpul apa saja yang ada di jalannya. 

Laut Galilea mempunyai 24 spesis atau jenis ikan. Seorang nelayan akan memisah-misahkan tangkapannya dan membuang ikan yang tidak bisa dimakan, atau binatang-binatang yang tidak diinginkan. Ingat hukum Yahudi mengizinkan ikan-ikan yang bersirip dan berisisik yang boleh di makan. Jadi perumpamaan ini mengumpamakan kerajaan surga seperti pukat yang di lepas di seluruh dunia dan sementara di tarik untuk penghakiman terakhir. Pada saat penghakiman, pemilah-milahan akan terjadi; malaikat-malaikat yang adalah agen-agen Allah, akan memisahkan yang jahat untuk dibinasakan dan yang baik untuk hidup kekal. 

Melihat deskripsi di atas, yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apakah pukat itu diumpamakan sebagai gereja, atau pelayanan gereja? Ya, perumpamaan ini melihat dunia kita sebagai skenario kegiatan kerajaan surga. Gereja yang menjadi persekutuan komunitas perjanjian di dalam masyarakat adalah saksi-saksi kerajaan surga. Tetapi pergerakan kerajaan mempunyai jangkauan yang lebih besar dari persekutuan orang-orang percaya saja. Pukat merupakan pengaruh total dari kerajaan surga ke masyarakat, ke dunia, mempengaruhi orang-orang untuk menerima Yesus. 

Akhirnya Yesus menutup perumpamaan ini dengan sebuah referensi yang mencakup keseluruhan seri perumpamaan di dalam pasal ini (ayat 51–52). Dia beratnya kepada murid-muridnya apa mereka mengerti semua ajaranya dan mereka menjawab, “Ya.” Kemudian Yesus merespons dengan meletakkan kepada mereka tanggung jawab misi untuk menjadi guru-guru yang akan membagikan mengenai kabar baik itu. 

Saudara-saudara yang kekasih, kita yang telah menjadi bagian dari persekutuan perjanjian di dunia ini, lebih khusus lagi warga gereja Advent, mengemban tanggung jawab itu. Tanggung jawab untuk mengabarkan kabar baik kepada mereka yang berada di sekitar kita. Untuk bersaksi kepada mereka supaya mereka bisa mengenal Yesus dan menerima Dia. Mari kita lakukan itu, kegitan bersaksi dan menginjil, agar ketika tiba saatnya memisah-misahkan hasil tangkapan pukat, kita telah berhasil mengurangi tangkapan-tangkapan kwalitas buruk tetapi meningkatkan tangkapan yang baik.  BAIT


 

Sabtu, 05 April 2025

PARADOKS MORAL ANTARA NABAL DAN ABIGAIL

 

NABAL: “WHO IS DAVID?” ABIGAIL: DAVID IS...: SEBUAH PARADOKS MORAL ANTARA NABAL DAN ABIGAIL

Oleh  : Pdt.  Dr.  Blasius Abin

 



Perikop 1 Samuel 25 dibahas oleh profesor saya Dr. G. Klingbeil dalam format pelajaran Sekolah Sabat 23-29 Oktober 2010 dengan penekanan konsistensi moral dan karakter dalam level praktis yang berat, tapi Abigail sebagai figur utama dalam narasi ini tidak hanya memilih untuk mempertahankan moralitas yang baik, tapi juga memiliki resistansi terhadap tendensi buruk dari lingkungannya termasuk Nabal, suaminya. Tulisan ini melihat perspektif lain dari tema yang sama melalui diagnosa teks (1 Samuel 25), analisis literal untuk aplikasi praktis.

 

Pertanyaan Nabal

Pertanyaan Nabal kepada utusan Daud “Who is David?” (1 Sam. 25:10). Pertanyaan untuk pertanyaan ini adalah: Sekalipun Nabal belum mengenal Daud, apakah Nabal sama sekali tidak mengetahui siapa Daud?  Dalam literal konteks yang lebih luas, superioritas Daud sebagai pahlawan sampai 1 Samual 25 sudah dikenal oleh Israel sejak dia diurapi sabagai raja oleh Samuel, lebih tepat sejak Roh Allah meninggalkan Saul dan memilih tinggal dalam Daud (1 Sam. 16:13, 14; cf. 10:9).  Spirit heroik Daud dalam mengalahkan Goliat (1 Sam. 17:1-58)  tidak hanya dicatat sebagai permulaan dari klimaks pelayanannya tapi juga menandai eksistensi siapa Daud di hadapan Israel dan Filistin, ia berkata keapda Goliat: “I come to you in the name of the Lord of hosts, the God of the armies of Israel” (1 Sam. 17:45).

 

Jadi jika benar Nabal sama sekali tidak mengetahui “Who is David” maka ia satu-satunya orang Israel tidak hanya hidup dalam lingkungan bisnis yang sempit: antara Maon dan Carmel sebagai bisnis man (1 Sam. 25:2), tetapi juga ia tidak mengikuti sejarah keselamatan yang dibuat Allah untuk Israel melalui orang pilihanNya pada era tersebut. Tapi apakah asumsi ini benar? Diagnosa 1 Sam. 25 memberikan sudut pandang yang lain. Reportasi yang dibuat oleh hamba dari Nabal dalam 1 Sam. 25:15-17 menegaskan bahwa mereka mengenal Daud dengan deskripsi: “the men were very good to us” (vs. 15 NAS); “they were a wall to us both by night and by day” (vs. 16 NAS). Bahkan istrinya, Abigail mengetahui siapa Daud, ketika ia pergi menemui Daud, Abigail meringkas cerita dalam pasal 24 tentang karakter Daud “since the Lord has restrained you from shedding blood, and from avenging yourself by your own hand, now then let your enemies and those who seek evil against my lord, be as Nabal.” (vs. 26).

 

Jadi Nabal mengetahui siapa Daud, pertanyaan Nabal: Who is David dilanjutkan dengan pertanyaan kedua “who is the son of Jesse?” (vs. 10). Pertanyaan yang kedua, tentang Jesse, ayah Daud,  disebutkan oleh Nabal dalam ayat 10, tetapi tidak diperkenalkan oleh utusan Daud pada ayat 6-8, artinya jika Nabal mengetahui siapa Jesse, ia juga mengetahui asal-usul Daud. Dalam konteks ini Nabal menekankan asal-usul dan strata sosial seseorang sebagai dasar untuk membangun apresiasi dan penghormatan: “Shall I take my bread and my water and my meat...and give it to men whose origin I do not know.”? (vs.11).  Sampai pada level ini, pranata sosial yang dibangun oleh Nabal bertentangan dengan moralitas Abraham yang menerima orang asing datang ke rumahnya (Kejadian 18), kata-kata seperti bread, water dan meat  dalam 1 Sam. 25: 11, disebutkan ketika Abraham menjamu orang asing “water..wash your feed, bread..refresh yourselves, (meat of) calf.” (Kej. 18:4-7). Ekspresi verbal yang ironi dari Nabal adalah ia mengetahui Jesse, ayah dari Daud tapi ia tidak mengetahui asal-usul Daud, ini menegaskan bahwa problem utama dari Nabal tidak terletak pada ia mengetahui atau tidak mengetahui siapa Daud. Pertanyaan “who is David” lebih dari sekedar pertanyaan retorik atau keingintahuan Nabal. Pertanyaan itu lahir dari presuposisi moral yang mengalami regresi sejak penciptaan.

 

Nabal dan Problem Moral

Cerita Nabal dalam 1 Samuel 25 dimulai dengan informasi tentang kematian Samuel (vs. 1), dan dilanjutkan dengan daftar kekayaan Nabal sebagai salah satu orang terkaya pada zaman itu (vs. 2). Penting untuk diketahui ayat 2 dan 3 sang narator membuat dua daftar parallel dengan penekanan yang berbeda: daftar kekayaan dan daftar kebaikan karakter (vss. 2, 3. Dalam komunitas dengan menerapkan sistem paternalistik, maka kekayaan yang didaftar adalah milik Nabal sebagai tuan: the man was very rich, and he had three thousand sheep and a thousand goats.” (vs. 2). Daftar kebaikan karakter adalah milik Abigail istrinya: “The woman was intelligent and beautiful in appearance” (vs. 3). Terjemahan literal bahasa Ibrani lebih tepat untuk mengerti kualitas moral Abigail, sebagai berikut: “The woman is good in intelligent, in beautiful, and in appearance.” Kata sifat tov  dalam bahasa Ibrani (“good”) digunakan dalam minggu penciptaan untuk menegaskan kualitas dan sifat dari substansi ciptaan Allah (cf. Kej. 1:4, 12, 18), dan ketika manusia diciptakan, Allah memberikan label kualitas karakter dalam bentuk superlatif “it was very good” (Kej. 1:31 NAS). Karakter Abigail mencirikan originalitas dari karakter  sejak penciptaan.

 

Daftar Kekayaan Nabal dan Abigail

Nabal (vs. 2)

Abigail (vs. 3)

He had three thousand sheep

The woman was good in inteligent

He had a thousand goats

The woman was good in beautiful

And was good in  appearance

 

Klausa yang kedua pada ayat 3, narator mengungkapkan karakter kontrast dari Nabal: “but the men was harsh and evil in his dealing and he was a Calebite.” Pembaca bahasa Indonesia dan Inggris hanya melihat secara literal tentang aktivitas eksternal dari Nabal: “kasar dan jahat perbuatannya.” Informasi dari frase ini hanya bisa dimengerti dari sumber problematik yang sesungguhnya pada frase yang terakhir dalam bahasa Ibrani: wehu  kelibu kalibi terjemahan dalam semua bahasa Inggris “he was a Calebite.” Kata  “lev” dalam kelibu diterjemakan “hati” atau “pikiran,” “inner man.” Abigail dalam permohonanya kepada Daud, ia membuat deskripsi tentang Nabal “Nabal is his name and folly is with him” (vs. 25).

 

Nama “Nabal”  berarti “foolish one,” (cf. Prov. 17:21, 25) selalu dihubungkan dengan kebodohan spiritual,  moral, dan intelektual. Dari konteks spiritual, jika hal ini terjadi akan mengakibatkan defisiensi mental. Efek yang lebih luas adalah relasi yang inharmoni dengan komunitas atau lingkungan. Kata nebala sinonim dengan nabal yang digunakan sebagai label untuk aktivitas sexual di luar nikah,  dan istilah yang sama digunakan dalam cerita tentang Dinah (Kej. 34:7; cf.  Hak. 19:23; 20:6, 10; Deut. 22:21); dan cerita tentang Ammon dan Tamar (2 Sam. 13:12, 13). Nabal tidak termasuk dalam kategori ini, tetapi Nebala dalam perspektif yang lain yakni “breaking the custom.” Teks berkata:

 

a)      Ayat 7: “now your shepherds have been with us and we have not insulted them, nor have they missed anything all the days they were in Carmel (Perlindungan harta milik Nabal oleh Daud)

b)      Ayat 8,  cf. 21: “therefore let my young men find favor in your eyes, for we have come on festive day. Please give whatever you find at hand to your servants and to your san David.” (Jasa yang harus dibayar oleh Nabal).

 

Menurut adat dan kebiasaan jaman itu, Daud layak mendapatkan bayaran untuk perlindungn terhadap harta milik Nabal (vs. 7), tetapi ia menolak untuk membayar (vs. 8). Penolakan Nabal adalah refleksi dari nebala (baca “kebebalan” atau “kebodohan”).  Jadi “nabal” atau “nebala” dalam konteks ini lebih dari sekedar tidak mengenal Allah tapi seorang yang menolak Allah. Ekspresi penolakan Nabal membawa efek negatif terhadap tindakan dan respon verbal dalam kehidupan praktis. Pertanyaan retorik dari Nabal “who is David” (vs. 10) lebih dari sekedar  keingintahuan Nabal tentang asal-usul Daud. Daud dipilih dan diurapi Allah, menggantikan Sual. Sekalipun secara de facto Saul masih berkuasa, tetapi pengurapan Daud oleh Allah telah menjadi rumor yang besar di antara orang Israel. Nabal tidak hanya menolak pengurapan Daud tetapi juga menolak Allah yang mengurapi Daud. Konsekuensi tragis dari penolakannya adalah penghukuman dan pembinasaan (cf. vss. 13, 22).

 

Moralitas Abigail dan Peran Mediasi

Integritas moral Abigail diungkapkan oleh dua sumber, orang lain dan ekspresi verbal serta aktivitas dari Abigail. Sumber eksternal adalah sang narator dalam cerita, dan Daud yang diurapi Allah.

 

§  Narator: The woman is good in intelligent, in beautiful, and in appearance (vs.3).

§  Daud: “blessed be the Lord God of Israel, who sent you this day to meet me” (vs.32).

§  Daud: “blessed be your discernment, and blessed be you, who have kept this day from bloodshed and from avenging myself by my own hand” (vs. 33; cf. vs, 26).

 

Kata benda abstrak ta’am (“discernment”/“kecerdasan”) adalah kata kunci yang digunakan oleh Daud untuk menggambarkan konsistensi karakter moral dari Abigail. Ia memiliki kecerdasan spiritual, kecerdasan persepsi, dan kecerdasan hati nurani. Kualitas ini, menurut Daud (vss. 26, 33), adalah kualitas atribut yang mendorong Allah mengutus Abigail mencegah Daud untuk membunuh (vs. 33).  Pada level ini kita dapat membangun asumsi dasar yang ideal bahwa utusan Allah memiliki karakter Allah, itu dimiliki oleh Abigail.

 

Tindakan dan ungkapan verbal Abigail juga menunjukan kecerdasan moral dan spiritual. Kata kerja “alah”(to go up)  dan “salah” (to sent) pada ayat 5 menggambarkan Daud dan utusannya datang kepada Nabal dengan maksud baik. Tapi penolakan Nabal yang membuat Daud “alah” (went up) pada ayat 13 untuk menumpahkan darah Nabal. Secara moral apa yang dilakukan oleh Nabal melawan hukum, tapi maksud dari Daud untuk membunuh Nabal juga bertentangan dengan hukum.

 

Satu-satunya instrument yang digunakan oleh Allah untuk menangani masalah serius ini adalah Abigail. Bagimana Abigail menyelesaikan masalah ini dicatat dalam 1 Sam 15:19, 20, 36,

§  she did not tell her husband” (vs. 19).

§  she met them [Daud and pasukannya] (vs. 20).

§  then Abigail came to Nabal” (vs. 36).

 

Lalulintas aktivitas dari Abigail adalah menemui Daud dan menemui Nabal. Daud ingin menemui Nabal tapi justru bertemu dengan Abigail. Dalam lalulintas aktivitas ini Nabal berada pada posisi pasif, tidak pernah keluar dari tempatnya untuk bertemu dengan Daud atau pergi untuk menemui Abigail, sekali lagi ini adalah bukti dari kebodohannya, apa yang ia buat adalah ciri dari arogansi dan kebodohan:

he was holding the feast in his house, like the feast of a king and Nabal’s heart was merry with him, for he was very drunk(vs. 36). Daud dan Abigail yang pergi bertemu dengan Nabal. Tapi maksud Daud cacat karena melanggar hukum “jangan membunuh.”

 

Peran intersesi dan mediasi Abigail adalah produk dari kebaikan dan kecerdasan rohani yang dibangun oleh Abigail dalam hubungannya dengan Allah. Sekalipun ia hidup serumah dengan Nabal, tapi relasi yang mutual dengan Allah memberinya imunitas rohani yang kuat. Apa yang dibuat oleh Abigail menegaskan dua hal penting: Pertama,  melalui Abigail Allah memproklamasikan kemerdekaan dari dosa tapi Nabal menolak untuk membuat restorasi “and his heart died within him so that he became as a stone” (vs. 37).  Kedua, melalui pemberian persembahan kepada Daud pada ayat 18, dan menceritakan kembali kejahatan Nabal kepada Suaminya, yakni Nabal pada ayat 36, 37 dan diikuti oleh kematian Nabal, sesungguhnya Abigail memberitakan kepada Daud dan Nabal bahwa Allah memiliki hak prerogatif untuk mengampuni dosa dan membalas kejahatan orang jahat: “The Lord sturck Nabal and he died” (vs. 38).

 

Pelajaran Praktis dan Aplikasi

Paradoks karakter Nabal dan Abigail tidak semata-mata diaplikasi pada level hubungan suami istri. Potret Nabal dan Abigail adalah representasi dari dua tendensi moral yang berbeda. Nabal lahir untuk menjadi besar dalam material dan itu baik, tapi Tuhan mengharapkan lebih dari itu. Nabal membangun nilai untuk hidup pada dasar yang superfisial (kekayaan, strata sosial). Di mata Allah ini adalah kebodohan, dan itulah arti dari namanya. Penolakannya terhadap Daud dan Allah adalah akibat logis dari kebodohannya. Nabal pergi terlalu jauh dari komunitas Israel dan Allah, sehingga nilai positif tidak dapat dilihat dengan jelas. Mungkin nama kita bukan “Nabal” tapi tendensi hidup untuk berbuat dosa adalah “nabal.” Jika kita adalah bagian dari tujuan hidup Nabal tulisan ini mengajak kita untuk membuat restorasi hubungan dengan Tuhan dan sesama.

 

Hubungan yang mutual dengan Tuhan adalah kata kunci dari konsistensi moral Abigail. Ia hidup setiap hari dengan Nabal tetapi ia tetap Abigail dan Nabal tetap menjadi Nabal. Sekalipun perempuan pada waktu itu diposisikan sebagai masyarakat marginal, tapi memegang teguh nilai hidup dari Allah adalah tujuah hidup Abigail. Kecantikan, kebaikan dibangun di atas kecerdasan moral dan spiritual. Semua itu lahir dari dasar yang kokoh yakni hubungannya dengan Tuhan. Kita masih berjuang untuk menjadi Abigail, Jusuf dan tokoh yang lainnya, karena komunitas kita: lingkungan, tempat kerja, masyarakat bukan tempat yang ideal. Namun kita perlu menjadi seperti “Abigail” figur yang ideal bagi Nabal dan Daud. Semua itu hanya diperoleh dari sumber dari mana semua umat Allah dalam Alkitab mendapatkannya, itulah Allah.


Sabtu, 29 Maret 2025

Roti Bakar

 
Roti Bakar
Oleh : Pdt. Dr. Robert Walean

Keluarga besar Isakhar adalah kaum yang dikenal sebagai kaum pekerja.  Bible Commentary Vol 1 hlm 482 memberikan penjelasan bahwa kaum Isakhar ini bekerja dibidang pertanian, bukan di bidang kekeuasaan politik.  Hal ini mengindikasikan bahwa Keturunan Isakhar ini adalah orang-orang yang fisiknya kuat. 

Mengenai kaum yang memiliki fisik kuat ini, ada suatu ayat yang menarik merhatian saya, ayat itu adalah Kejadian 49:14.  Ayat ini mengatakan Isakhar adalah seperti keledai yang kuat tulangnya, yang meniarap diapit bebannya,”  Dalam ayat ini Isakhar diparalelkan/ digambarkan seperti keledai yang kuat tulangnya, tetapi keledai yang kuat tulangnya ini tidak dalam posisi berdiri tegap,  juga dalam posisi berjalan membawa barang bawaannya tetapi justru digambarkan dalam posisi tiarap dengan diapit oleh beban yang seharusnya diangkatnya/ dibawanya.  Keledai yang digambarkan di ayat ini sebenarnya memiliki potensi yang baik untuk berdiri tegap dan bekerja karena kuat tulangnya, tetapi faktanya adalah walaupun ia memiliki potensi yang baik tetapi ia meniarap diapit bebannya.

Gambaran yang seperti ini, sebenarnya menggambarkan keadaan beberapa umat Tuhan.  Ada beberapa umat Tuhan yang sebenarnya sudah lama mengenal kebenaran ini dan itu pun masih dilengkapi dengan berbagai sertifikat kehadiran di beberapa seminar pemuritan, Ada yang berpengalaman dalam tugas-tugas di jemaat, ada yang secara akademis mereka sudah memiliki sertifikasi dalam pemahaman bahkan untuk mengajarkan akan firman Tuhan, dan masih ditambah lagi dengan sudah memiliki pengalaman-pengalaman spektakuler yang sebenarnya menguatkan iman mereka.  Tetapi sayangnya, sekarang ini justru mereka dalam keadaan lemah imannya sehingga sekarang ini mereka hanya meniarap diapit bebannya.

Dalam I Raja-raja 18 kita mendapati suatu catatan yang mengenai nabi Elia.  Nabi Elia adalah seorang nabi kuat, hebat, dan telah melakukan suatu hal yang spektakuler dengan mengalahkan 450 nabi-nabi  baal.  Tetapi tidak lama setelah itu semua, hanya dalam satu fatsal kemudian juga dicatatkan, ketika ia mendapat ancaman (I Raja-raja 19:1-2) dari seorang wanita penyembah berhala,  “Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.  Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."  Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu…”  I Raja-raja 19:3-5.  Rasa takut telah begitu menguasai Elia sehingga  itu membuat Elia yang sebenarnya adalah nabi Allah yang kuat, hebat, dan spektakuler itu menjadi buta akan fakta-fakta kuasa Tuhan yang ada dan buta akan rencana-rencana Tuhan padanya.  Ia tidak lagi melihat kuasa Tuhan yang ada dan ia tidak lagi melihat rencana-rencana yang besar padanya didepan. Dalam ayat 10 dicatatkan bahwa ia mengira bahwa sudah tidak ada lagi orang Israel yang bersama dia masih menyembah Tuhan, dengan mengatakan “…orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”  Tetapi kemudian apa kata Tuhan mengenai fakta yang sebenarnya terjadi pada waktu itu “Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia."  II Raja-raja 19:18. 

Elia adalah serang nabi yang kuat, hebat, spektakuler, dan ia telah manang (18:40), tetapi dalam fatsal 19:4 ia menjadi lemah, tidak kuat, putus asa, bahkan ia minta untuk mati saja karena dikejar-kejar oleh pihak Izebel. 

Kadang-kadang kita juga menjumpai umat-umat Tuhan, bahkan bisa saja ada hamba Tuhan yang kuat, hebat, dan juga telah mengalami perkara-perkara yang spektakuler  bersama Tuhan, tetapi tiba-tiba pada suatu kesempatan menjadi lemah karena dikejar-kejar oleh daya tarik lawan jenisnya, dikejar-kejar oleh daya tarik harta, dikejar-kejar oleh daya tarik posisi, atau justru karena merasa ditinggalkan.  Keadaan ini, seperti keledai Isakhar yang kuat tulangnya tetapi lemah sehingga meniarap diapit bebannya. 

Kembali ke pengalaman nabi Elia, dalam I Raja-raja 19:5-7 dicatatkan “…Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Bangunlah, makanlah!"  Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.  Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu."  Lalu apa akibat memakan makanan dan minuman dari malaikat ini?  “Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.”  I Raja-raja 19:8.  Memang Elia yang adalah nabi yang kuat, hebat, dan spektakuler itu pernah lari dari kejaran pihak Isebel, ia lari dengan masuk kehutan tanpa tujuan pokoknya melarikan diri dari tantangan Isebel.  Tetapi sekarang keadaan berubah!  Dalam I Raja-raja 19:8 dikatakan bahwa sesudah ia dikuatkan dengan memakan makanan dari malaikat, ia bisa berjalan dengan kuat selama empat puluh hari dan empat puluh malam dengan tujuan yang jelas dan pasti, yaitu ke gunung Allah, yakni gunung Horeb!  Dan di gunung Allah, yakni gunung Horeb ini, ia mendapat suatu kesempatan yang bukan hanya spektakuler tapi juga merupakan sutu kesempatan untuk bertemu dengan Allah yang menyatakan diri di sana (I Raja-raja 19:9-18). 

Mengapa Elia bisa kembali jadi kuat dan hebat, bahkan bukan hanya mengalami pengalaman yang spektakuler tapi ia mengalami suatu pengalaman yang mulia diatas gunung Horeb itu?  Karena ia makan roti bakar dan minum air yang disediakan oleh malaikat dua kali!  Peristiwa itu terjadi di hutan dan di sajikan oleh malaikat, itu artinya roti bakar itu dan air itu bukanlah roti bakar yang dijual dipinggir jalan dan bukan air dari sumur, tapi itu adalah makanan yang disediakan oleh Surga untuk Elia.  Hal ini mengingatkan kita akan apa yang Tuhan Yesus katakan dalam Matius 4:4  “…Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”  Bila firman Tuhan kita terima bukan sekedar untuk mepelajarinya tapi karena kita memang membutuhkannya, firman Tuhan ini akan membuka mata rohani kita melihat akan tujuan-tujuan yang mulia. 

Kembali ke keledai Isakhar, dalam Kejadian 49:15 dikatakan “ketika dilihatnya, bahwa perhentian itu baik dan negeri itu permai, maka disendengkannyalah bahunya untuk memikul, lalu menjadi budak rodi.”  Setelah keledai Isakhar ini melihat dengan jelas akan suatu tujuan yang baik dan permai,  munculah kekuatan baru untuk menuju ke tempat itu.  Setelah keledai ini melihat mendapatkan suatu visi yang tepat dan mulia, ada dua hal yang terjadi:

Hal pertama, “…maka disendengkannyalah bahunya untuk memikul…” Bahunya diarahkan untuk bekerja.  Kembali menyadari bahwa tujuannya adalah baik dan permai, maka timbullah semangat baru dan kekuatan baru untuk bekerja.  Disinilah perlunya kita saling mengingatkan sebagai suatu jemaat bahwa tujuan kita bukanlah sekedar tujuan-tujuan di dunia ini, tetapi tujuan kita adalah suatu tempat yang baik dan permai, dimana kita bisa hidup bersama kembali dengan kekasih-kekasih kita yang sudah mendahului kita bahkan disana kita bisa hidup bersama dengan Juruslamat kita.  Kita perlu kembali dan selalau melihat pada Yesus sang Raja Semawi itu, maka kita akan disanggupkan untuk bekerja sambil menuju Kerajaan Semawi itu.

Hal kedua,  “..menjadi budak rodi.”  Anak kalimat ini bukanlah merujuk pada suatu status seseorang yang rendah/ yang dibawah kekuasaan orang lain.  Tetapi anak kalimat ini merujuk pada sikap kerja dimana keledai ini kembali bekerja dengan sikap yang sungguh-sungguh  ia rela menyerahkan hidupnya dalam pekerjaan itu, dan hal ini, menyerahkan hidup kita untuk bekerja dalam menuju “negeri yang permai” itu adalah suatu kehormatan!  Itulah sebabnya ayat ini oleh King James Version dituliskan sebagai “And he saw that rest was good, and the land that it was pleasant ; and bowed his shoulder to bear , and became a servant unto tribute.” 

Bukankah hal ini mengingatkan kita semua bahwa firman Tuhan yang kita terima Karena memang kita membutuhkannya, dapat membukan visi mata kita dengan jelas ketempat-tempat yang mulia sehingga timbul juga gairah dan semangat untuk berjalan maju dengan kuat kembali sambil memikul tugas-tugas yang diembankan pada kita.  Kuasa firman Tuhan dapat mengembalikan kita pada komitmen kita yang semula, apapun resikonya. 

Mungkin kita berfikir, bukankah saya ini seorang Kristen yang setiap hari membacara sesuai jadwal “Follow The Bible.”  Oh syukurlah kalau begitu, tetapi sekedar untuk mengingatkan diri kita sendiri, marilah kita lihat apa yang dinasihatkan oleh Ny. Ellen G. White sehubungan dengan belajar (bukan sekedar baca tapi selidiki, pelajari dengan cara yang bukan sekedarnya) “Selidikilah Alkitab! Pelajarilah Alkitabmu sebagaimana engkau belum pernah pelajari sebelumnya.” TESTIMONIES, Jld. 5, hlm. 717.  

Memang kita adalah manusia biasa yang dapat saja berhadapan dengan tantangan-tantagan iman yang dapat saja menggerogoti kekuatan kita, biarlah kita senantiasa menerima firman Tuhan sebagaimana memang kita sungguh membutuhkannya sehingga kita juga akan mengalami bahwa kuasa Tuhan akan menyanggupkan kita untuk tetap berdiri bahkan menjalankan tugas-tugas yang telah diembankan pada kita sambil berjalan dengan kuat menuju tempat yang dengan jelas kita lihat yaitu pertemuan dengan Allah kita, di hari Maranataha itu. ***