BAIT Ministry

HUT BAIT ke 1 di Megamendung Bogor

Kunjungan ke Jemaat Sentul dan Panti Asuhan di Bogor dalam rangka HUT BAIT Ministry ke 1.

BAIT Ministry di Toraja

Kunjungan BAIT Ministry ke SLA Mebali dan berbagai tempat wisata dalam rangka HUT BAIT ke 3.

Kunjungan BAIT Ministry ke Palu

Kunjungan BAIT Ministry ke Palu Dalam Rangka HUT BAIT Ministry ke 4.

KKR Bait Ministry di Kotamobagu

KKR BAIT Ministry di Kotamobagu Dalam Rangka HUT BAIT Ministry ke 5.

Baptisan BAIT Ministry di Kotamobagu

Baptisan Setelah KKR Dalam Rangka HUT BAIT Ministry ke 5 di Kotamobagu.

Selasa, 05 September 2023

Sumber Air

 
Sumber Air

 


 

M

asih terasa hingga saat ini di ibukota Jakarta dan sekitarnya masih jarang turun hujan tapi anehnya di sekitarnya pada beberapa waktu lalu ada banjir karena aliran air kiriman dari Bogor. Kita mengharapkan hujan turun supaya tumbuh-tumbuhan boleh hidup dan hawanya terasa adem dan sejuk, tetapi kalau kebanyakan hujan pasti akan banjir.

Hidup manusia sangat bergantung pada air, sebab air menjadi kebutuhan manusia yang sangat vital dan penting. Tanpa air maka manusia akan sulit untuk bertahan hidup.

 

Yang pasti air telah menjadi salah satu sumber kehidupan bagi seluruh mahkluk hidup. Bahkan dapat dikatakan bahwa kehidupan seluruh mahkluk hidup yang ada sangatlah bergantung kepada sumber air. Sayangnya kehidupan seluruh mahkluk hidup yang ada di dunia saat ini, hanya bersifat sementara, artinya ada waktu dimana mahkluk hidup itu pasti akan mati.

 

Pada dasarnya semua mahkluk yang hidup di dunia ini pasti akan mati, kita umat manusia sekarang berada di dalam antrian secara acak, ada yang baru datang ke antrian di belakang ternyata di panggil duluan, sedangkan ada yang sudah berada di antrian terdepan belum di panggil. Waktu kita di panggil untuk menghadapi kematian, pada dibalik kematian itu tidak ada lagi kehidupan, maka manusia akan hidup dan berusaha bagaimana ia bisa menikmati hidup sekarang saat ia masih bernafas sepuas-puasnya dan sesuka hatinya. Tetapi ternyata dibalik sebuah kematian masih ada kehidupan yang abadi.

 

Sampai disinilah manusia diperhadapkan kepada dua pilihan, yaitu apakah hanya mau menikmati kehidupan hari ini dengan segala kesenangan dunia, atau menyerahkan hidup ini kepada Yesus Kristus Tuhan yang adalah sumber mata air hidup yang sesungguhnya dan hidup di dalam pengaturan-Nya, menuruti kehendak-Nya, supaya dapat memiliki kehidupan kekal setelah kematian.

 

Semoga kita sebagai mahkluk manusia yang mulia ini mencari untuk mendapatkan sumber air hidup yang berlimpah rua yang tak akan pernah kering, marilah kita datang kepada sumber air hidup tersebut yaitu TUHAN YESUS, amin.

 

Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." Yohanes 7 : 38

 

 

 

Willy U. Wuisan

Apakah Kebenaran Itu ?


Apakah Kebenaran Itu ?
Pdt. Ronny Panambunan


                                                                                                                                                                     


K

ebenaran tidak seperti dulu lagi. Di masa lalu, mengatakan kebenaran berarti merepresentasikan fakta secara akurat. Kebenaran berhubungan dengan kenyataan untuk diketahui, dan bahwa tidak mengatakan kebenaran adalah salah secara moral. Sehingga mengatakan kebohongan adalah kekeliruan dari suatu masalah.  Negara kita Indonesia baru saja selesai dengan pesta demokrasi. Pasca beberapa hari Pilpres dan Pileg, terjadi perang kecaman di media sosial lantaran ada klaim kemenangan dari salah satu paslon di Pilpres 2019.  Banyak orang mempertanyakan klaim kemenangan tersebut.  Ketika calon Presiden Prabowo Subianto mengklaim  angka 62 persen kemenangan di Pilpres 2019 dan berkata, “kami menang,” apakah ia mengatakan yang sebenarnya?  Tentu jawaban yang terbaik adalah itu tergantung pada apa definisi “adalah” dan apa definisi Prabowo tentang “kemenangan” bahkan untuk membuktikan klaim tersebut dan bahwa telah terjadi banyak pelanggaran dalam Pilpres 2019 Prabowo telah menempuh jalur hukum ke Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang merupakan Lembaga Peradilan Modern dan Terpercaya.

 

Dunia kita telah terbiasa dengan Orwellian doublespeak (suara ganda Orwellian adalah menggambarkan situasi, ide, atau kondisi masyarakat yang dengan sengaja mengaburkan, menutupi, membelokkan, atau memutar balik makna kata sebagai hal yang merusak kesejahteraan masyarakat yang bebas dan terbuka), dan dengan alasan moral yang absolut sebagian besar dianggap sesuatu dari masa lalu, bahasa telah menjadi alat yang lentur di tangan para ideolog.

 

Kaum feminis telah lama memahami kekuatan penamaan dan penggantian nama untuk menata kembali dunia kita sesuai dengan gagasan mereka tentang kesetaraan gender. Tetapi yang jauh lebih meresahkan daripada penggunaan bahasa yang cenderung tendensius dan manipulatif oleh mereka yang mengejar agenda sosiopolitik adalah fakta bahwa gagasan kebenaran telah menjadi korban pemikiran dan wacana postmodern (Post modern adalah masa setelah masa modern yaitu paradigma berpikir dimana segala sesuatu itu relatif, satu hal dapat terganti dengan mudah jika hal baru memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan hal lain.  Paham Postmodernisme adalah filsafat yang menegaskan bahwa tidak ada kebenaran yang obyektif atau mutlak, terutama yang terkait soal agama dan spiritualitas; "itu mungkin benar untuk Saudara, tapi tidak bagi saya."). Kebenaran tidak lagi "kebenaran", dalam ajaran-Nya,  Yesus mengklaim sebagai "kebenaran" (Yohanes 14: 6. Yesus berkata kepadanya, "Akulah jalan, dan kebenaran, dan kehidupan. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku). Sebaliknya, itu dipahami sebagai kebenaran "Anda" atau kebenaran "saya" —yaitu, berbeda dalam cara, tapisama-sama sah dalam memahami realitas. Oleh karena itu kebenaran hanyalah versi realitas yang dipilih secara sosial, dikondisikan secara sosial, dan dibangun oleh seseorang.

 

“Kebenaran sejati” hampir tidak jauh berbeda dengan “kebenaran palsu.” Hal ini membuktikan bahwa kebenaran sedang dalam kondisi terjepit pada zamannya.  Orang Kristen, khususnya yang mengaku “umat yang sisa” atau “umat yang setia” harus menegaskan realitas dari kebenaran dengan menyatakan mengenal dan memahami “kebenaran sejati” bukan sebagai subjektif atau relatif, karena kebenaran adalah kebenaran telah hilang saat ini dan relatiflah yang berkuasa.  Pengajaran di perguruan tinggi bahkan di sekolah-sekolah teologi kebenaran sedang diruntukan dan hal itu telah mengalir kedalam kehidupan kita sehari-hari.  Pada zaman ini, banyak orang bahkan ada pengajar dan pendeta telah tergoda oleh dunia, menggunakan konsep-konsep dunia gantinya jawaban khas dari Alkitab ketika menjawab isu-isu global sekarang ini.  Saatnya gereja dan anggota-anggotanya mengambil satu sikap dan pendirian yang teguh dan tegas untuk kembali kepada Alkitab sebagaimana pernyataan Yesus “ada tertulis,” (Matius 4:4,6,7,10; 21:13; 26:31; Markus 7:6;11:17; 14:27) sebuah generasi baru harus bangkit menghadapi tantangan untuk menyuarakan kebenaran.

 

Banyak orang berusaha untuk memahami masalah kebenaran dari sudut pandang budaya, filosofis, teologis-hermeneutis, dan alkitabiah. Tapi tahukah kita bahwa kurang lebih dua ribu tahun yang lalu, Kebenaran diadili dan dihakimi oleh orang-orang yang justru mengabdikan dirinya kepada dusta. Bahkan, untuk membuktikan kebenaran, kebenaran harus menghadapi enam pengadilan dalam waktu kurang dari satu hari penuh. Tiga pengadilan agama, serta tiga pengadilan hukum. Semua yang mengikuti peristiwa-peristiwa ini barangkali dapat menjawab pertanyaan ini, “Apakah kebenaran itu?”  Mulai dari Hanas, Kayafas yang adalah imam dan menantu Hanas, dan dihadapan Mahkama Yahudi (Sanhedrin) banyak saksi palsu yang dihadapkan.  Mahkamah Agama Yahudi telah membuat keputusan, tetapi dewan Yahudi tidak memiliki hak resmi secara hukum untuk melaksanakan hukuman mati, sehingga mereka terpaksa membawa hal ini kepada gubernur Romawi pada saat itu, Pontius Pilatus, memerintah tahun 26-36 masehi. Pilatus diangkat oleh Kaisar Tiberius sebagai Prokurator atau gubernur daerah kelima Yudea.  Sebagai Gubernur, Pilatus dapat menggunakan kekuasaannya untuk menentukan hidup dan mati seseorang. Ia bisa membalikkan hukuman mati yang diputuskan oleh Mahkamah Agama.  Inilah percakapan Pilatus dan Yesus di Pengadilan:

Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: “Engkau inikah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?” Kata Pilatus: “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Kata Pilatus kepada-Nya: “Apakah kebenaran itu?” (Yohanes 18:33-38).

 

Pertanyaan Pilatus yang terkenal kepada Yesus tentang sifat kebenaran dalam Yohanes 18:38 “Apakah kebenaran itu?” telah sering ditanyakan oleh banyak orang sekarang ini.  Yohanes menunjukkan bahwa kebenaran adalah konsep teologis, dan kenyataannya bahwa konsep kristologis tidak dapat dipisahkan dengan pribadi Yesus Kristus (Yohanes 14: 6). Yesus adalah kebenaran, dan Firman-Nya adalah kebenaran (Yohanes 17:17), dan karena Yesus adalah Firman, Anak Tunggal dari Bapa yang telah menjelma menjadi manusia dan diam diantara kita (Yohanes 1:1-3,14), maka satu-satunya cara bagi kita untuk mengetahui kebenaran adalah mengenal Tuhan melalui Yesus Kristus karena Yesuslah Kebenaran itu (Yohanes 8:31; 14: 6; 17: 3).

 

Catatan Alkitab sebagai Firman Allah yang hidup tentang pengadilan Yesus di hadapan Pilatus yang diikuti dengan diskusi tiga tokoh utama dalam pengadilan Yesus di hadapan Pilatus:  Para pemimpin Yahudi, Pilatus dan Yesus. Peran pemimpin Yahudi dan penolakan mereka terhadap kebenaran karena menghadirkan saksi dan kesaksian yang palsu, serta Pilatus pengingat yang abadi tentang ketidakmungkinan mempertahankan netralitas dihadapan kebenaran dan Yesus melayani sebagai Saksi Kebenaran Allah di hadapan para interogatornya Romawi telah membuktikan banyak hal tentang “apakah kebenaran itu?”

·        Persidangan Yesus adalah parodi keadilan.  Jika hakim tidak memperdulikan kebenaran, apakah peran kebenaran dalam persidangan Yesus dan vonis terhadap Yesus?,

·        Peran Pilatus sejajar dengan peran Kayafas, Imam Besar Yahudi, keduanya menunjukkan orang non-yahudi dan orang Yahudi dapat bersatu dalam satu aliansi yang tidak kudus untuk melawan seorang yang Benar yang diurapi Tuhan.

·        Kebenaran bukanlah gagasan abstrak atau suatu bentuk dalil tetapi kebenaran adalah secara Kristologis dan Keselamatan secara historis, yang terikat erat pada Salib (secara literal) dengan kata lain kebenaran adalah Yesus sendiri, dan Injil adalah tentang penyaliban dan kebangkitan-Nya. Injil ini memanggil seluruh umat manusia untuk percaya, dan bukan suatu pernyataan terpisah tentang realitas secara umum.

·        Tokoh utama dalam narasi pengadilan bukanlah Pilatus tetapi Para pemimpin Yahudi dan Yesus.  Serangkaian kisah tanda-tanda Yesus yang meningkat dalam Yohanes 1-12 diparalelkan dengan gelombang penolakan terhadap Yesus oleh para pemimpin Yahudi yang mewakili bangsa Yahudi. Pertempuran utama untuk kebenaran adalah antara Yesus dan para pemimpin Yahudi dan menyangkut pertanyaan yang sangat penting tentang apakah Yesus adalah Mesias yang Ia klaim. Sementara Pilatus berupaya menghindari pertanyaan tentang kebenaran, orang-orang Yahudi langsung menolak kebenaran.

·        Pertanyaan Pilatus, "Apakah kebenaran itu?" Yang jauh dari sekadar penyelidikan yang tulus mengenai sifat kebenaran, memiliki fungsi semata-mata untuk menghentikan pokok persoalan dan melanjutkan pada tujuan dari pertemuan itu.

·        Yesus berdiri di hadapan Pilatus merupakan pernyataan kebenaran melawan kekuasaan.  Power of Truth (kuasa kebenaran) jauh lebih besar daripada Truth of Power (kebenaran kekuasaan).  Yesus memberikan harapan kepada mereka yang tidak berdaya dan tidak punya kekuasaan tetapi mereka adalah yang mewakili kebenaran.

 

Pada akhirnya, kebenaran ini membutuhkan tanggapan pribadi: “Setiap orang yang dari kebenaran mendengarkan suaraku” (Yohanes 18:37).  Dalam kerangka Injil, pernyataan ini menggemakan kata-kata Yesus dalam “wacana Gembala yang Baik” dalam pasal 10 (lihat ayat 3, 16, dan 27; lihat juga 3: 3, 21).  Sementara Yesus yang seolah-olah yang diadili di sini, kata-kata Yesus menjadi sorotan bagi Pilatus:  Apakah ia akan menjawab kebenaran dan mendengarkan Yesus? Atau apakah dia akan mendengarkan para penuduhnya?  Pada prinsipnya adalah mungkin bagi Pilatus untuk mendengarkan Yesus. Tetapi menanggapi Yesus saat itu berarti pemutusan radikal dengan masa lalunya, begitu radikal sehingga hampir tidak terpikirkan.  Masa lalu Pilatus memperbudaknya, dan masa kini terlalu berantakan dengan kebijakan politik dan kompromi sehingga sulit bagi kebenaran untuk masuk.  Seperti para pemimpin Yahudi, Yesus berkata dalam Yohanes 10:26 “tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku.” Pilatus tidak termasuk di antara “domba” Yesus.  Hal ini mengecewakan tapi tidak mengejutkan, setelah tidak lebih dari keraguan sesaat, Pilatus dengan acuh tak acuh menjawab, “Apakah kebenaran itu?” dan dengan kasar menghentikan interogasi, kembali ke luar untuk memberikan keputusannya tentang Yesus kepada para pemimpin Yahudi dan orang banyak.  Apa jawabanmu Jika pertanyaan Pilatus ini ditanyakan kepadamu sekarang ini “Apakah kebenaran itu?”  Dan Apakah engkau termasuk domba-domba-Ku? Kata Yesus. Percayakah engkau bahwa Yesus adalah Kebenaran?  Saya percaya.  ***



Semakin Cantik

 

SEMAKIN CANTIK

Janice P. Losung, SE. MM


Kejadian 29:17 "Lea tidak berseri matanya, tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya".

 



 

Kecantikan mutlak didambakan oleh setiap orang.  Banyak cara yang dilakukan dan ditawarkan untuk mendapatkan paras yang cantik, dan elok rupa.  Tak jarang upaya mendapatkan kecantikan itu harus merogoh kantong dalam dalam dan menghabiskan biaya yang sangat mahal.  Meskipun kecantikan itu relatif, tergantung cara seseorang menilai bagi si A menilai cantik, belum tentu pendapat si B, tetapi dalam era perputaran di zaman modernisasi ini, usaha-usaha mempercantik diri itu terus saja berkembang pesat dari waktu ke waktu dan dalam berbagai cara dan model.

 

Menjadi cantik butuh usaha, baik dari dalam maupun dari luar diri kita.  kecantikan sejati lebih berasal dari dalam jiwa seseorang.  Apakah dari dalam jiwanya dipenuhi dengan rasa syukur? Menghargai pencipta dan Menjalani kehidupan dengan perasaan gembira?  Kecantikan akan menjadi sia sia bila dari diri tidak pernah merasa puas dan jauh dari rasa syukur akan karunia dan berkat dari Khalik pencipta.

 

Ingat kue khas Minahasa, Panada dan Cucur?.  Kue yang enak selain rasanya yang khas, juga karena penampilannya yang cantik.  Keunikan Kedua kue ini adalah karena memiliki renda/hiasan unik.  Sehingga begitu menggoda dan banyak kali dihadirkan hampir dalam setiap iven berbagai acara.  Kue panada akan memiliki renda hanya bilamana dicubit cubit oleh si pembuatnya sebelum digoreng.  Sementara kue Cucur, tak perlu dicubit cubit akan membentuk renda yang cantik dengan sendirinya ketika digoreng, asalkan campuran yang diberikan dalam adonannya tepat.  Gula aren yang digunakan haruslah tepat, pasti renda akan muncul dengan begitu cantiknya.

 

Kecantikan rohani akan muncul dan dimiliki oleh setiap kita yang beriman bila memiliki campuran yang tepat dalam kehidupan kita.  Kecantikan rohani akan terbentuk seiring kita mengalami proses dari hari ke sehari.  Memohon selalu campuran yang tepat dari Khalik Pencipta kita.  Ingat, Menjadi cantik rohani mutlak harus dimiliki oleh kita semua.  Campuran yang pas di dalam hidup kian menambah kecantikan kita baik secara badani terlebih rohani.

 

 

 



Gideon - Bukan Karena Keperkasaan


 "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! " Yeremia 17:7

                                                                                                                                                                    


D

i beberapa kesempatan Tuhan membiarkan bangsa Israel ditindas dan menderita, bahkan Tuhan membantu musuh untuk mengalahkan Bangsa Israel.  Mengapa Tuhan membiarkan Bangsa Midian menjajah, bahkan menindas Bangsa Israel ? "Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian, tujuh tahun lamanya,"(Hakim-hakim 6:1)

Gideon hidup di mana bangsa Israel sedang dijajah oleh bangsa Midian.  Menghadapi masalah masalah ini, orang Israel mencoba untuk mencari jalan keluar. Mereka mencoba mencari solusi dengan mengandalkan kekuatan manusia dengan membangun tempat perlindungan (ay.2). Apakah solusi mereka ini menjawab persoalan mereka? ternyata tidak. Mereka menabur namun tidak dapat menuai. Hasil tanah mereka dirampas  oleh orang Midian. Di saat orang Israel telah kehabisan kekuatan, mereka datang dan berseru kepada Tuhan (ay.6).

Kadang kalah kita seperti Orang Isreal, buat persoalan dan coba mencari jalan sendiri untuk mengatasinya. Tidak sedikit manusia akan menolak sesamanya yang telah mengabaikan peringatannya dan kembali mencarinya setelah dia berada dalam masa-masa sulit. Namun syukur kepada Allah, saat Israel kehabisan kekuatan dan berseru kepada Tuhan, Ia memberikan solusi. Tuhan memanggil dan mengangkat Gideon,  seorang yang tidak terkenal, bahkan berasal dari kaum dan suku yang kecil untuk mengerjakan pekerjaan besar yaitu untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Midian. Tentu Tuhan bisa memilih orang yang jauh lebih terkenal dan kuat dari pada Gideon. Namun Tuhan memilih orang yang jauh berbeda. Mengapa? agar bangsa Israel sadar bahwa mereka bisa diselamatkan bukan karena kegagahan manusia, namun karena kuasa Tuhan.

Jangan pernah meremehkan Firman Tuhan yang telah disampaikan. Hiduplah dalam ketaatan. Kekerasan hati kita hanya akan menyeret kita ke dalam perbuatan yang jahat. Semuanya menghasilkan upah yang harus ditanggung. Jika saat ini kita sedang berada dalam berbagai persoalan, berserulah kepada Tuhan. Jangan lagi mengandalkan kekuatan diri sendiri di dalam menyelesaikan persoalan kita. Datanglah dan berserulah kepadaTuhan, maka Ia akan menolong kita.  "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada TUHAN!. "


Sekolah Untuk Kesayangan

 

Sekolah Untuk Kesayangan

Yoshen Danun


 


D

ari awal bulan Mei bahkan ada dari April setiap tahun orang tua mulai berburu sekolah untuk anak-anak yg baru lulus sesuai jenjangnya. Yang lulus SD mencari SMP, yang lulus SMP mencari SMA atau SMK dan yang lulus SMA/SMK  mencari Perguruan Tinggi bagi yang mau lanjut kuliah.

Beberapa faktor yang menjadi konsideran orang tua dalam mencari sekolah antara lain:

1.      Kwalitas.

Dilihat dari lulusannya yang dikenal berpreatasi. Orang tua juga menginginkan anak-anaknya berprestasi agar untuk lanjut ke jenjang lebih tinggi, jauh lebih mudah.

2.      Lokasi.

Salah satu pertimbangan memilih sekolah adalah jangkauan anak didik. Harus mudah dijangkau agar anak siswa tidak terlambat masuk kelas.  Selain itu anak siswa juga tidak kecapean di jalan sehingga menyebabkan tidak punyah gairah lagi belajar. Faktor ongkos ke sekolah juga jadi pertimbangan memilih lokasi yang dekat dari rumah.

3.      Spritual.

Salah satu pertimbangan orang tua memilih sekolah adalah pembinaan spritual/rohani.  Ini dikaitkan dengan iman kepercayaan keluarga. Untuk orang Kristen akan memilih sekolah berbasis Kristen. Yang beragama Katholik tentu memilih sekolah Katholik. Yang muslimpun demikian akan memilih sekolah berbasis Islam. Dan untuk orang Advent tentu akan mendahulukan sekolah yang dikelolah oleh gereja Advent, kecuali tidak ada baru memilih sekolah lain.

Hamba Tuhan Ny. Ellen G. Whilte sebagai Juru Kabar Tuhan, dalam bukunya MMA hal 291 :Pilihan Sekolah yang Menempatkan Allah sebagai Dasarnya:

§  Dalam merencanakan pendidikan untuk anak-anak di luar rumah tangga, orang tua harus menyadari bahwa tidaklah lagi aman baginya untuk mengirimkan mereka ke sekolah umum, dan harus berusaha untuk mengirimkan mereka ke seolah-sekolah dimana mereka akan memperoleh suatu pendidikan yang didasarkan pada Alkitab.

§  Di atas bahu setiap orang tua Kristen terletak satu tanggung jawab yang khitmat untuk memberikan kepada anak-anaknya suatu pendidikan yang akan menuntun mereka untuk memperoleh suatu pengetahuan tentang Tuhan……….. dan menuruti kehendak dan jalan Allah.

§  Bagi yang mereka yang hidup di kota besar, Ny. E. G. White menasihatkan dalam buku yang sama menasehatkan: •Banyak lagi hal yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan dan mendidik anak-anak mereka yang sekarang ini tidak dapat menyingkir dari kota-kota besar.  Hal ini adalah suatu perkara yang harus diusahakan dengan sebaik-baiknya.  Sekolah-sekolah gereja harus didirikan bagi anak-anak yang ada di dalam kota-kota besar, dan sehubungan dengan sekolah-sekolah ini, persiapan harus diadakan untuk megajarkan pelajaran-pelajaran yang lebih tinggi, di tempat dimana hal seperti ini diperlukan

Bagi keluarga penulis, kami memilih sekolah yang dikelolah oleh GMAHK, walaupun di sekitar tempat tinggal ada sekolah-sekolah berprestasi, ada yang lokasi lebih dekat.  Pertimbangan utama anak-anak harus dibekali pendidikan rohani yang mumpuni, selama mereka berada di TK, SD, SMP dan SMA.  Sesudah itu kami memberikan pilihan kepada anak-anak untuk memilih Perguruan Tinggi yang mereka mau mendapat pendidikan sesua cita-cita profesi di kemudian hari.  Namun demikian PT Advent yang didahulukan.  Pemilihan PT merupakan perembukan bersama dalam keluarga.

Pendidikan yang tepat untuk anak-anak kita akan mendatangkan sukacita sesuai dengan yang disebut Raja Solaiman dalam Amsal  29:17 Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.

Bagi keluarga yang sedang mencari sekolah untuk anak-anak mereka, maka penulis menganjurkan untuk memilih sekolah yang pendidikan berpusat pada Yesus Kristus.

FE 0005 10            Philosophy---The Seventh-day Adventist philosophy of education is Christ-centered.  Adventists believe that, under the guidance of the Holy Spirit, God’s character and purposes can be understood as revealed in the Bible, in Jesus Christ, and in nature.  The distinctive characteristics of Adventist education derived from the Bible and the writings of Ellen G. White point to the redemptive aim of true education: to restore human beings into the image of their Maker.

 



Senin, 04 September 2023

Akhir Sebuah Pertandingan


S

etiap pertandingan ada yang menang ada yang kalah. Bagi yang sudah sering mengikuti perlombaan atau pertandingan, mengalami kekalahan itu biasa walaupun sebelum mengikuti pertandingan sangat mengharapkan untuk menang. Bagi yang sudah terbiasa menang, jika mengalami kekalahan perasaan malu itu ada. Untuk mendapatkan kemenangan, dibutuhkan persiapan, latihan dan strategi supaya dapat mengalahkan lawan. Dan tujuan untuk mengikuti sebuah pertandingan adalah untuk mendapatkan hadiah yang dipersiapkan oleh pelaksana pertandingan.

 

Sebagai umat Tuhan, kita diibaratkan sebagai olahragawan rohani yang akan atau sedang mengikuti pertandingan dan membutuhkan banyak persiapan rohani, strategy rohani dan kekuatan iman untuk dapat memperoleh kemenangan dalam menghadapi pertandingan antara kebaikan dan kejahatan, antara perkara rohani dan duniawi.

 

Kita memiliki banyak contoh olahragawan rohani dalam Alkitab yang dapat kita teladani menjadi seorang pemenang rohani. Salah satunya adalah Pertandingan Rasul Paulus. Dalam II Timotius 4:7 Rasul Paulus mengatakan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Tiga hal yang dilakukan Pulus dalam mengikuti pertandingan rohani :

 

1.      Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik,

2.      Aku telah mencapai garis akhir dan

3.      Aku telah memelihara iman.

 

Satu pengalaman rohani Rasul Paulus yang adalah seorang mantan penganiaya bahkan pembunuh umat-umat Tuhan dalam menjalankan pertandingan Rohani menuliskan “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.” II Timotius 4:6. Ungkapan Paulus ini menggambarkan bahwa pertandingan iman yang ia jalani adalah bukan sebuah pertandiangan yang biasa atau ibarat hanya sebuah pertandingan persahabatan. Paulus meyakini bahwa jenis pertandingan yang ia ikuti adalah sebuah pertandingan yang baik yang tidak memiliki kecurangan.  Iapun yakin telah mencapai garis akhir yang menandakan bahwa ia telah menjadi seorang pemenang oleh karena selama mengikuti pertandingan rohani, ia telah memelihara iman yang menjadi modal utama bagi seorang olahragawan rohani.

 

Sebagai seorang olahragawan rohani yang telah mencapai garis finish, Rasul Paulus memberikan nasihat bagi kita sebagai satu tim “umat Tuhan” yang sedang menunggu hari kemenangan saat tuhan datang pada kali yang kedua. “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberitaan Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! - II Timotius 4:5. Kita membutuhkan penguasaan diri untuk mengentahui kemampuan dan kesiapan kita dalam menghadapi lawan. Kita membutuhkan kesabaran yang merupakan satu kunci pertahanan dalam menghadapi tekanan serangan lawan.  Kita juga harus memberitakan Injil dengan cara menunjukkan bahwa kita bertanding dengan cara yang baik, mengikuti aturan-aturan Firman Tuhan sebagai pedoman pertandingan rohani. Bahkan kita harus menunaikan tugas pelayanan kepada sesama saudara seiman sebagai wujud persatuan dan kerjasama dalam tim yang sedang menanti hari pengalungan “Medali kemenangan” pertanda bahwa kita telah menang dan berhak mendapatkan piala kemenagan yaitu keselamatan kekal.

 

Dengan yakin menjadi seorang pemenang dalam II Timotius 4:8, Rasul Paulus mengatakan : “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”

“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.” I Timotus 6:12


 

Uang atau Hati Yang Diberikan ?

 
Uang atau Hati Yang Diberikan ?
Pdt. Dr. Moldy Mambu


Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persem-bahan dan  memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang kedalam peti itu.  Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.  Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.  Maka dipanggil Nya murid-murid Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang  kedalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahan-nya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkah-nya.” (Markus 12:41-43).

 

Menarik kisah yang ditulis dalam Injil Markus diperjanjian baru mengenai lapuran pandangan mata dengan setting sebuah rumah ibadah dengan rombongan Yesus serta muridnya.  Berada di pintu masuk rumah ibadah, Yesus dan murid-murid duduk memper-hatikan setiap pengunjung yang datang berbakti.  Di depan pintu masuk diletakkan  sebuah peti persembahan dimana pengun-jung memasukkan pemberiannya.  Yesus memperhatikan satu persatu tangan yang diulur bersama jumlah pesembahan dan mencermati korelasi antara jumlah persembahan, ketulusan serta semangat berbakti melalui tarikan wajah mereka. Disana jemaat berdatangan lalu muncul seorang kaya memberi persem-bahan disusul seorang janda miskin yang seperti malu dilihat orang ketika menjatuhkan persembahannya.

 

Di jaman itu uang kertas belum digunakan sehingga bunyi gemerincing yang keras dan lama akan terdengar bilamana orang kaya menjatuhkan persem-bahannya.  Setelah bunyi yang panjang selesai maka orang akan melihat si pemberi berjalan masuk, dengan kepala diangkat.  Dibanding dengan si janda yang persembahannya hanya berden-ting kecil dua kali nyaris tidak kedengaran.  Tapi apa yang dilihat manusia beda dengan yang dinilai Yesus. Dimata Yesus persem-bahan perempuan janda miskin ini lebih banyak (lebih bernilai) daripada persembahan semua orang yang dimasukkan dalam peti persembahan ketika itu. Hal ini disebakan sang janda bukan memberi dari kelimpahannya tapi dari kekurangannya.

 

 Suatu pemberian bukan hanya menyangkut jumlah maupun nilai namun terkait pula dengan motif, kwalitas dan kerelaan.  Sehu-bungan dengan janda miskin ini, pemberiannya adalah sebuah ibadah yang didorong oleh rasa syukur.  Pemberiannya itu adalah sesuatu yang direncanakan sehingga kalau terlupa maka akan terasa ada yang kurang dan belum dilakukan.  Selanjutnya ketika tangan melepas persem-bahan maupun perpuluhan di pundi maka jalaran berkat akan terasa mengalir ke hati  memuaskan sanubari yang berserah.  Persembahan adalah pemberian yang merupakan ungkapan terimakasih kepada Tuhan sedangkan perpuluhan adalah mengembalikan kepada  sesuatu yang adalah milikNya. 

 

Dasar Alkitabiah untuk pengem-balian persepuluhan dan persem-bahan dapat ditemukan dalam referensi berikut: Im. 27:30; Mal. 33-12; Mat. 23:23; 1 Kor. 9:9-14; 2 Kor. 9:6-15. Perhatikan juga kutipan berikut ini dari Roh Nubuat:

 "Sistem persepuluhan dan persembahan ini dimaksudkan untuk mengingatkan satu kebenaran besar kepada pikiran mereka bahwa Allah adalah sumber dari segala berkat kepada mahkluk-mahkluk dan kepada-Nyalah rasa syukur manusia harus disampaikan atas segala pemberian-pemberian yang baik dari pemeliharaan-Nya."-Alfa dan Omega, jld. 2, hlm. 140.

 

Tiap anggota jemaat harus diajar untuk setia dalam mengem-balikan persepuluhan dengan tulus."-Testimonies, jld. 9, hlm. 251. "lni bukanlah permintaan manusia; ini adalah petunjuk Allah, melalui mana pekerjaan-Nya dapat disokong dan dijalankan di dunia .... Tidak seorang pun dapat mengizinkan dirinya untuk tidak mengem-balikan persepuluhan dan persembahan kepada Tuhan."-Testimonies to Ministers, hlm. 307.

 

Perpuluhan adalah sakral yang penggunaannya diatur dengan teliti (1 Kor 9:7-14; CS 65-79; AA 335-337). Itu sebabnya uang perpuluhan yang diterima oleh Bendahara Jemaat dari seluruh anggota Jemaat harus dikirim ke Kantor Daerah seluruhnya untuk maksud yang ditentukan. Dapatkah Jemaat yang lagi membangun mengambil uang perpuluhan untuk pembangunan, membeli kendaraan, membayar hutang di bank?  Jawabnya jelas yaitu tidak.  Roh nubuat memberi pencerahan bahwa  “The tithe is to be used for one purpose—to sustain the ministers whom the Lord has appointed to do His work. It is to be used to support those who speak the words of life to the people, and carry the burden of the flock of God.”—Ellen G White, Manuscript 82, 1904.

 

Uang persepuluhan pengelolaan-nya bukan berada di Jemaat.  Pembiayaan perongkosan di Jemaat sudah diatur meng-gunakan kas gereja demikian juga dengan departemen yang ada di Jemaat.  Persentasi keuangan terpadu dibagi menurut porsi anggaran masing-masing depar-temen.  Keuangan pembiayaan pendidikan / sekolah disokong oleh uang sekolah, subsidi organisasi dan persembahan pendidikan.  Itu sebabnya sejum-lah persembahan dan persepu-luhan diatur untuk digunakan menurut aturan yang pengelo-laannya terdapat di Konferens/Misi, Uni, Divisi dan GC.

 

Walaupun proyek evangelisasi menjadi kebutuhan mendesak di Jemaat namun penggunaan uang persepuluhan wewenangnya berada di “store house” – Rumah Perbendaharaan yaitu dikantor Konferens atau Kantor Daerah.  Adalah suatu kekeliruan bilamana kita langsung membiayai proyek KKR ataupun membayar gaji PS/TSPM/Pendeta dari uang perpuluhan yang seharusnya dikirim.  Banyak kali kita mendengar adanya pendeta muda yang dibiayai oleh jemaat namun itu mutlak bukan dari uang perpuluhan.  Fondsnya boleh datang dari donasi maupun keuangan jemaat.  Bendahara Jemaat / Jemaat tidak berada dalam kapasitas untuk mengatur uang perpuluhan karena itu adalah wewenang Konferens/ Daerah. “Only conference/ mission/ field organizations are authorized to make allocations from tithe funds. The tithe is the Lord’s and should be returned to the storehouse, the conference/ mission/field treasury. “Bring ye all the tithes into the storehouse, that there may be meat in mine house, and prove me now herewith, saith the Lord of hosts, if I will not open you the windows of heaven, and pour you out a blessing, that there shall not be room enough to receive it” (Mal 3:10). “The tithe is sacred, reserved by God for Himself. It is to be brought into His treasury to be used to sustain the gospel laborers in their work.”—Gospel Workers,p 226.

 

Anggota gereja yang baru bergabung sangat perlu diman-tapkan mengenai doktrin perse-puluhan.  Dibanyak tempat seseo-rang yang akan diterima menjadi anggota jemaat baik melalui pindahan ataupun baptisan harus lebih dahulu menunjukkan kesetiaan dalam soal persepu-luhan.  Walaupun Persepuluhan bukanlah sebuah ujian untuk keanggotaan namun setiap pemimpin perlu menjadi teladan dalam mengembalikan persepu-luhan.  Sangat janggal bilamana seorang yang menjadi tua-tua jemaat lalu tidak setia dalam soal perpuluhan karena bagaimanakah dia akan menjadi panutan dijemaat?  Seorang pemimpin jemaat yang melalaikan persepuluhan maka ia akan kehilangan kuasa untuk berbicara mengenai penatalayanan.  Keadaan setiap anggota jemaat harus diketahui dengan teliti oleh pendeta Jemaat untuk kepen-tingan pemilihan pegawai Jemaat. 

Banyak kali kita menerima surat maupun himbauan untuk mengirimkan uang persepuluhan ke daerah tertentu yang lagi kekurangan dana.  Kadang pula yang memohon adalah dari tempat asal kita  dimana dulu kita telah dibesarkan.  Ketika dulu kita sekolah di SD/SMP/SMA,  jemaat setempat yang memberi subsidy bersama daerah kepada gaji guru dan  untuk kelangsungan institusi. Juga ketika di Perguruan Tinggi dulu dari konferens/daerah pulalah yang menyokong dengan berbagai cara agar semuanya berjalan maju.  Kemudian setelah tamat merantau kenegeri orang dan memberi persepuluhan ditempat itu.  Maaf kata, tempat baru itulah yang mendapat buahnya padahal dulu tidak ikut menanam, memberi pupuk dan membesarkan, ketika dulu kita berada sejak di pendidikan dasar dan selanjutnya sampai selesai. 

 

Namun policy dalam peraturan Jemaat mengatakan bahwa “Persepuluhan adalah milik Tuhan dan harus dibawa sebagai suatu tindakan perbaktian ke dalam perbendaharaan konferens/ daerah melalui jemaat di mana keanggotaan seseorang berada. (Peraturan Jemaat hal. 164 – Edisi ke 17). Walaupun ada banyak kebutuhan keuangan yang terjadi namun Tuhan mempunyai banyak cara untuk mencukupkan kebu-tuhan ladang Nya.

 

Persembahan dan Persepuluhan adalah milik Tuhan yang peng-gunaannya sudah diatur melalui petunjuk Firman Tuhan dan Roh Nubuat.  Melalui sarana pembe-rian ini maka berkat akan dicurahkan dari tingkap-tingkap langit kepada seluruh anggota jemaat sehingga kita akan berkelimpahan kekayaan badani terlebih rohani yang nanti  akan disempurnakan dalam kerajaan Surga.

 

Bila kita sudah memberikan hati kita untuk Tuhan maka waktu, uang dan talenta lainnya akan  mengikuti.  Selanjutnya menda-pat berkat seperti Perempuan janda yang telah lebih dahulu memberikan seluruh kehidupan-nya kepada Tuhan.