|
|
Kunjungan ke Jemaat Sentul dan Panti Asuhan di Bogor dalam rangka HUT BAIT Ministry ke 1.
Kunjungan BAIT Ministry ke SLA Mebali dan berbagai tempat wisata dalam rangka HUT BAIT ke 3.
Kunjungan BAIT Ministry ke Palu Dalam Rangka HUT BAIT Ministry ke 4.
KKR BAIT Ministry di Kotamobagu Dalam Rangka HUT BAIT Ministry ke 5.
Baptisan Setelah KKR Dalam Rangka HUT BAIT Ministry ke 5 di Kotamobagu.
|
|
BELAJAR DARI AHASYWEROS, WASTI DAN ESTER
Oleh : Pdt.
Jacky Runtu
Siapa Wasti ? Ester
1:8 “sang Ratu” ini juga adalah satu jabatan terhormat tentunya. Siapa sang Raja ? Ester 1:1 “Raja
Ahasyweros, yang merajai 127 daerah” Kapan
dan apa yang mau dipelajari dari Wasti ?
|
A |
hasyweros, Ester 1:3 “ pada tahun ketiga pemerintahannya” ; Ester 1:4 “memamerkan kekayaan kemuliaan kerajaannya … sampai 180 hari “ Ester 1:5 “setelah itu … mengadakan perjamuan lagi 7 hari lamanya bagi seluruh rakyatnya dari orang besar sampai orang kecil” Ester 1:10 “pada hari yang ketujuh” ( perayaan itu ) Ester 1:11 “Wasti (harus) memperlihatkan kecantikannya kepada sekalian rakyat dan pembesar-pembesar (untuk menunjukkan) sang ratu sangat elok rupanya” namun, Ester 1:12 “ratu Wasti menolak”. Akibatnya Ester 1:19 “Wasti dilarang menghadap raja Ahasyweros, dan mengaruniakan kedudukannya sebagai ratu kepada orang lain” Ester 2:17 “Ester … diangkat menjadi ratu ganti Wasti”
Mungkin ada pelajaran yang bisa diambil mengenai rumah tangga dan pelajaran lainnya. Tetapi sekarang mari kita mengambil pelajaran mengenai jabatan atau kedudukan. Dalam hal ini yang memiliki jabatan itu ialah Wasti sebagai ratu dan Ahasyweros sebagai raja.
1. Ahasyweros sebagai pemegang jabatan, bersikap otoriter terhadap kaum lemah dalam hal ini wanita yaitu istrinya ratu Wasti, sekalipun itu hasil dari nasihat penasihat kerajaan. Terkadang mereka yang memegang jabatan bisa bertindak otoriter terhadap bawahannya dan berlindung di bawah keputusan majelis dengan beralasan itukan keputusan majelis, padahal dalam mengambil keputusan dominasi pemegang kekuasaan sangat tinggi. Kita berharap mereka yang memiliki jabatan, akan benar-benar mengambil keputusan sesuai pertimbangan yang terbaik, yang tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadi.
2. Ahasyweros membuat pameran kekayaan kemuliaan kerajaannya selama 180 hari, merupakan pemborosan dan pertunjukkan kesombongannya. Sampai-sampai istrinyapun dipandang sebagai bagian dari kemuliaan kerajaan, sehingga menjadikan istrinya object bukan subject bagi dirinya. Ini membuat keputusan yang diambil adalah salah. Kita juga berharap mereka yang memegang jabatan tidak berfoya-foya menggunakan fasilitas untuk menyombongkan diri. Hati-hati, bisa-bisa keputusan yang diambil adalah salah.
3. Wasti, demi menjaga kehormatan kaum wanita, dia harus korbankan jabatannya. Dia bersedia kehilangan jabatan, daripada kehilangan harga diri. Berapa banyak kita justru sebaliknya, mengorbankan harga diri dan kehormatan demi mendapatkan jabatan.
4. Wasti kehilangan jabatan, tetapi kita mengetahui bahwa ada jalan Tuhan Wasti kehilangan jabatan, yaitu memberi jalan bagi Ester untuk dapat membebaskan bangsanya. Terkadang kita harus pasrah dan berserah sekalipun harus kehilangan jabatan. Bisa saja Allah sedang mempersiapkan orang lain yang Ia akan gunakan melancarkan rencanaNya bagi keselamatan banyak orang. Sekalipun Wasti bisa saja yang tercantik dan yang terbaik, dan juga baru menjabat “tiga tahun”, tetapi kalau sudah rencana Tuhan, yakinkan itu yang terbaik.
5. Ester
mendapat jabatan bukan karena Wasti tidak baik, tetapi karena ada missi Tuhan
pada dirinya. Tetapi Ester terlalu enak merasakan kedudukannya sehingga lupa
pada missi Tuhan. Ester 4:13 “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja,
hanya engkau yang akan terluput.” Pada ayat-ayat sebelumnya, dijelaskan bahwa
Ester sempat menolak permintaan pamannya yaitu Mordekai untuk bertemu raja dan
memohon pertolongan raja. Demikian juga, terkadang pemegang jabatan lupa bahwa
dia berada disitu bukan karena dialah yang terbaik, tetapi ada missi Tuhan yang
dibebankan kepada dirinya. Jangan sampai para pemegang jabatan terlena dengan
kemuliaannya, terlena karena berada dalam “comfort zone” sehingga selalu jaga
posisi aman. Keputusan yang diambil tidak menunjukkan kemajuan, tindakan yang
diambil tidak memiliki visi ke depan, tetapi menjaga posisi. Bila dihadapkan
pada keharusan mengambil keputusan yang terbaik, tetapi harus berhadapan dengan
perlawanan mayoritas, maka tidak berani mengambil keputusan strategis tersebut
agar terjaga posisinya pada daerah “comfort zone”
Kiranya semua orang pilihan Tuhan, akan
selalu ingat Missinya berada di atas dunia ini. Mari kita konsentrasi
pada missi kita. Mereka yang memegang jabatan, mari kita terfokus kepada missi
ini. Jangan lagi kita mementingkan missi pribadi. Pekerjaan ini pasti
diselesaikan, dengan saudara ataupun tidak dengan saudara, tetapi yang terbaik
ialah dengan keterlibatan kita semua. Tuhan memberkati. Amin !
Pertanyaan
mengenai penulis Alkitab memang cukup rumit. Jika anda membuka internet browser
anda, dan membuat search di Amazon, anda akan menemukan banyak buku yang
ditulis untuk menjawab pertanyaan yang diatas. Ada buku berjudul `Who Really Wrote the Bible?’ oleh Eyal Rav-Noy dan Gil Weinreich, ada juga buku yang berjudul ‘How the Bible Became the Bible’ oleh
Donald L. O’Dell, dan ‘The Origin of the Bible’ oleh Philip W.
Comfort.
Ini
disebabkan oleh begitu banyaknya buku Alkitab, 66 buku. Untuk mendapat jawaban
yang tepat, kita harus menjawab pertanyaan ini untuk tiap buku, dan saya rasa
kita tidak punya waktu untuk itu. Untuk itu, mari kita melihat beberapa
penjelasan mengenai pertanyaan ini.
Secara
umum, kita bisa menjawab bahwa para penulis Alkitab adalah “nabi-nabi,
imam-imam, dan kepala-kepala Negara dari bangsa Israel yang menulis buku-buku
PL dalam bahasa Ibrani (dua dalam bahasa Aramaik). Rasul-rasul dan pembantu
mereka menulis buku-buku PB dalam bahasa Yunani.”[1] Bahkan para gembala,
petani, penjual tenda, dokter, penjala ikan, dan ahli filsafat juga telah
mengambil bagian di dalam menulis Alkitab. Mereka di inspirasi oleh Roh Kudus
dan mereka menuliskan dengan kata-kata mereka sendiri apa yang sudah
dikomunikasikan Roh kudus kepada mereka, sesuai dengan latar belakang
pendidikan dan intelek masing-masing.
Semua 66
buku membahas
berbagai ragam pengetahuan, sejarah, nubuatan, kesusasteraaan dan teologia.
Walaupun sangat kompleks dan begitu banyak perbedaan gaya penulisannya yang
meliputi waktu yang cukup lama, semua buku di dalam Alkitab selalu setuju
dengan tema, fakta-fakta yang ada dan bukti arkaeologis yang dewasa ini mengkonfirmasi dunia Alkitab.
Dengan
fakta-fakta tersebut, kita melihat bahwa tidak ada seorangpun yang hidup dapat
merencanakan satu rencana penulisan buku yang terdiri dari kumpulan-kumpulan
penulis yang beragam dalam kurun waktu 1,500 tahun. Kita harus ingat bahwa
tulisan-tulisan asli dari Alkitab bisa bertahan atas tantangan cuaca,
penganiayaan waktu. Semua ditulis dengan tangan, sebab mesin cetak baru di
ciptakan tahun 1455.
Banyak
tulisan Alkitab menggunakan material yang rapuh seperti papyrus, yang adalah
tanaman sejenis jerami, sehingga semua catatan itu sudah lenyap dimakan waktu.
Tetapi masih banyak salinan buku-buku PL yang tetap utuh.
Tulisan-tulisan
yang utuh, sebagai contoh, adalah gulungan-gulungan Alkitab yang ditemukan di
Laut Mati atau the Dead Sea Scrolls di Qumran. Tahun
1946, seorang gembala Palestina yang bernama Muhammed edh-Dhib bersama dengan
sepupunya menemukan gua pertama dari sebelas gua yang ditemukan selama
1946-1947. Gua-gua itu mengandung gulungan-gulungan Alkitab dari seluruh buku di PL,
selain Ester. Gulungan-gulungan ini diperkirakan berasal dari waktu sebelum
Yesus Kristus. Bahkan di saat Perang Kaisar Yulius di Gaul.
Penemuan ini memberi bukti
bahwa Alkitab telah di salin berkali-kali dengan sangat tepat sesuai dengan
asli. Ini menegaskan bahwa para penulis Alkitab yang telah menerima ilham dari
Tuhan merasa sangat penting agar salinan dilakukan sedetail mungkin.
Jika
kita memperhatikan dengan seksama (coba membuka suatu Bible Commentary), kita
akan dapati bahwa ada beberapa buku Alkitab yang tidak menyebutkan secara
langsung siapa penulisnya. Di dalam Perjanjian Lama,
Karena
itu, pertanyaan yang rumit ini, kami akan sederhanakan dengan kesimpulan ini.
1.
Kita bisa percaya apa yang Alkitab sendiri katakan mengenai
siapa yang menulisnya, tetapi kita harus berhati-hati mengartikan isi Alkitab
agar sesuai dengan maksud yang sebenarnya, bukan maksud sesuai yang kita
ingini.[4]
2.
Para penulis Alkitab
menulis dengan bahasa Yunani, Ibrani dan Aramaik. Salinan-salinan berikutnya
menggunakan Yunani.
3.
Seluruh isi PB sekarang ini, di kanonisasi sebelum tahun 375
A.D. Sementara PL sudah di kanonisasi lebih dulu, sebelum Yesus Kristus lahir.
4.
Davidson menjelaskan mengenai cara Alkitab diberikan.
“Doktrin mengenai revelation-inspiration (wahyu-dan-inspirasi) sangat mendasar terhadap interpretasi
alkitab. Sesuai dengan catatan Alkitab Tuhan telah menunjukkan diriNya dan
kehendakNya melalui pernyataan-pernyataan khusus akan kebenaran kepada
nabi-nabiNya (Ibrani 1:1). Melalui inspirasi Roh, Dia telah memampukan
nabi-nabiNya untuk mengkomunikasikan wahyu ilahi sebagai Firman Tuhan yang
dapat dipercaya dan mempunyai otoritas (2 Tim. 3:15, 16; 2 Petrus 1:19–21). Roh
yang sama telah menginspirasi nabi-nabi telah dijanjikan kepada yang ingin
menggunakan pikiran mereka untuk mencari arti dari wayu ilahi (Yoh 14:26; 1
Kor. 2:10–14).[5]
[1]John MacArthur, The MacArthur Bible
Handbook, "Published in Association With the Literary Agency of
Wolgemuth & Associates, Inc."--T.p. Verso.; Includes Index. (
[2] R.E. Friedman, Who Wrote the Bible? (San Francisco, CA: Harper Collins, 1997), 28.
[3] D.J.A. Clines, “Pentateuch,” [an essay in
B.M. Metzger et al, The Oxford Companion
to the Bible,
[4]Walter C. Kaiser, Hard Sayings of the
Bible (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1997), 39.
[5]Raoul Dederen, vol. 12, Handbook of
Seventh-Day Adventist Theology, electronic ed., Logos Library System;
Commentary Reference Series (Hagerstown, MD: Review and Herald Publishing
Association, 2001, c2000), 59.
“Kesempatan Untuk Hidup Sebagaimana Pencipta Alam Semesta Ini”
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh adalah merupakan suatu gereja sedunia yang keberadaannya
terdapat di berbagai penjuru dunia ini.
Sebagai suatu gereja sedunia ini tentu saja gereja kita ini adalah
terdiri dari gereja-gereja setempat yang berbeda-beda keberadaannya, dari
gereja-gereja yang berdiri megah di kota-kota besar sampai
gereja-gereja sederahana di berbagai pelosok dunia ini, tetapi dimanapun
dan bagaimanapun keadaan gereja itu,
Allah sangat menaruh perhatian pada gereja-Nya.
Sebagaimana yang Ny. Ellen G.
White katakan “Gereja Kristus adalah satu-satunya obyek diatas bumi ini yang
terhadapnya dicurahkan-Nya perhatian-Nya yang paling tinggi.”[1] Tentu saja kita bersyukur dan berbangga
karena Khalik semesta alam kita ini menaruh perhatian yang sedemikian
istimewanya pada gereja-Nya ini.
Di sisi yang lain, bila Kristus sangat memperdulikan gereja-Nya,
lalu bagaimana dengan sikap kita sendiri terhadap gereja-Nya itu? Ny. Ellen G. White juga menasihatkan kita
“Setiap umat percaya hendaknya dengan tulus mengasihi dan memperhatikan jemaat
Kristus.”[2] Jemaat yang dikasihi Tuhan, Masih ingatkah
kita bahwa beberapa saat sebelum kita menerima babtisan yang suci dulu,
masing-masing kita ada mengucapkan sumpah babtisan, dengan cara mengucapkan
kata “ya” pada 12 pertanyaan yang ditanyakan pendeta? Dan pada sumpah yang ke 10, yang saat itu
pendeta tanyakan pada kita “Apakah anda percaya pada oraganisasi Jemaat, dan
apakah adalah rencanamu untuk membantu jemaat itu?” Dan tetu saja kita juga telah menjawabnya
dengan kata “ya.”
Dalam menyokong jemaat yang dikasihi Tuhan
itu, tahukah kita akan tujuan keberadaan gereja itu sendiri? “Allah telah
mengorganisir GMAHK-7 di masa sekarang ini untuk menolong anggota untuk tunduk
(berserah) kepada-Nya. Program-program
gereja termasuk mengenai tubuh, harta, kesanggupan, dan waktu dari setiap
anggota gereja dapat membentuk pengembangan tabiat. Gereja setempat memilih pemimpin-pemimpin
dalam setiap departemen untuk mendorong anggota-anggota untuk menyerahkan diri
mereka sendiri pada Allah dalam pelayanan yang mengasihi jemaat dan
masyarakat. Pendeta-pendeta kita adalah
pemimpin-pemipin rohani kita, tetapi Allah tidaklah mengharapkan mereka
menangani penyebaran injil seorang diri.
Seluruh program rohani jemaat menyediakan semua kesempatan untuk kita
meyerahkan kehidupan kita pada Allah.”[3]
Pembentukan tabiat
Kristus dalam kehidupan jemaat adalah sangat penting sebagai dasar untuk
mensukseskan penginjilan sebagai tujuan gereja kita ini didirikan. “Kecuali setiap anggota memiliki hubungan
yang akrab dengan Allah dan mengembangkan tabiat-Nya, ia tidak mempunyai
sesuatu untuk dibagikan. Kehidupan
berjalan dengan kering sebagaimana sebuah pena yang kehabisan tinta, itulah
sebabnya usaha-usaha penginjilan untuk mereka yang bukan anggota Advent tidal
lebih banyak berbuah.”[4]
Dalam II Korintus 9:8
rasul Paulus menuliskan “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia
kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan
malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” Ayat ini menunjukkan bahwa kebajikan/
kedermawanan adalah sesuatu yang merupakan pemberian Allah. Sebagai pemberian Allah bagi jemaat, tentulah
kebajikan/ kedermawanan itu dapat kita dapatkan untuk nantinya kita praktekkan,
bila kita memintanya. Sedangkan proses
meminta pada Allah ini akan mendidik kita untuk bergantung pada Allah, sehingga
terjalinlah suatu hubungan yang akrab antara kita jemaat-Nya dengan Allah yang
adalah Kepala jemaat itu.
Sebagai pemimpin rohani
jemaatnya, para para pemimpin jemaat haruslah mengerti, menghargai, dan
mengimplimentasikan program-program serta pengaruhnya untuk mengarahkan dan
membantu pembentukan tabiat jemaat untuk semangkin seperti Kristus. Kristus telah meneladankan suatu kehidupan
yang tidak hanya memikirkan diriNya sendiri, tetapi selalu lebih mengutamakan
untuk memikirkan, menolong, menyokong, bahkan berkorban bagi kepentingan
umat-Nya. Di zaman modern sekarang ini,
pendeta yang adalah pemimpin rohani bagi jemaatnya bertanggung jawab untuk
merencanakan dan mengarahkan pertumbuhan tabiat yang terus menerus jemaatnya.
Sebagaimana Ny. E. G. White
katakan “Hal-hal yang membutuhkan kedermawanan dalam tindakan haruslah
ditempatkan dihadapan mereka, atau mereka tidak dapat mencontoh tabiat dari
Teladan yang agung itu..”[5]
Bersama dengan para pemimpin
rohani di jemaat, adalah tanggung jawab kita pula sebagai anggota jemaat untuk
menggunakan segala karunia kita bahkan hidup kita dalam memelihara dan
menyokong jemaat, baik itu dalam hal penggembalaan jemaat maupun dalam hal penginjilan
jemaat yang merupakan dua tujuan didirikannya gereja kita ini. Untuk menggunakan segala karunia bahkan hidup
kita untuk menyokong jemaat inilah, kita harus menata gaya hidup kita dan
rencana-rencana hidup kita. Disinilah
peranan dari prinsip-prinsip Penatalayanan dalam kehidupan kita sebagai anggota
jemaat.
Penatalayanan bukanlah suatu
program untuk membatas-batasi gaya hidup kita, tetapi justru Penatalayanan
adalah suatu program yang menghargai kita sebagai anggota jemaat. Ya,
Penatalayanan adalah suatu program yang menghargai anggota jemaat, karena
penatalayanan adalah suatu kesempatan untuk bagi kita untuk hidup sebagaimana
Pencipta Alam semesta ini, yang dermawan.
Mengenai hal ini, Ny. E. G. White mengatakan bahwa. “Allah telah merencanakan
sistim kedermawan, agar supaya manusia dapat menjadi seperti Penciptanya,
kedermawanan dan tidak cinta diri dalam tabiat, dan akhirnya turut bersama
Kristus dalam kekekalan, upah yang mulia.”[6]
Pada saat kita
menyadari akan terang bahwa Penatalayanan adalah merupakan Kesempatan untuk
hidup sebagaimana Pencipta, maka “program-program rohani dan keuangan dari
jemaat setempat dapat membuat arti dan tujuan yang baru seutuhnya.”[7] Itulah sebabnya, “Kedermawanan yang
sistimatis harus mempengaruhi seluruh kehidupan – tubuh, harta, kesanggupan,
dan waktu. Empat hal ini membuat
pertumbuhan tabiat Allah dalam kehidupanmu; dibutuhkan keempatnya untuk membawa
injil pada dunia.”[8]
Melaui menghargai dan
menerapkan prinsip-prinsip penatalayanan, kita berkesempatan untuk Menyokong
gereja dengan seluruh kehidupan kita.
Sebagaimana yang Pdt. Dr, Jan Paulsen, mantan ketua GMAHK-7 sedunia
katakan “Dalam memberi, kita sedang berkata pada Allah, ‘Saya ingin menjadi
bahagian dalam rencana-Mu dalam menyelesaikan tugas.” Dan Ny. E. G. White juga mengatakan “Bilamana
engkau telah menjadikan pekerjaan Allah menjadi perhatianmu yang nomor satu
sedemikian rupa, maka engkau dapat meminta dengan keyakinan sehingga
keperluanmu sendiri dapat dipenuhi.”[9]
[1] Ellen G. White, Review and Herald,
[2] Ellen G. White, 4 Testimonies, hlm. 18.
[3] Paul G. Smith, Managing God’s Goods
(Nashville, Tennessee: Southern
Publishing Association, 1973), hlm. 41.
[4] Paul G. Smith, Managing God’s Goods
(Nashville, Tennessee: Southern
Publishing Association, 1973), hlm. 46.
[5] Ellen G. White, Counsels on Stewardship,
hlm. 15.
[6] Ellen G. White, Counsels on Stewardship,
hlm. 15.
[7] Paul G. Smith, Managing God’s Goods
(Nashville, Tennessee: Southern
Publishing Association, 1973), hlm. 40.
[8] Paul G. Smith, Managing God’s Goods
(Nashville, Tennessee: Southern
Publishing Association, 1973), hlm. 40.
[9] Ellen G. White, Mount of Blessing, hlm. 110
“ON TIME” KENAPA SIH!
Oleh
Pdt. Moldy Ruddy Mambu
“Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari
ini adalah jahat“ Efesus
Acara besok pagi dimulai
pukul
Dibanyak jemaat himbauan „datang pada waktunya“ hanya sebatas retorika. Tiap acara kebaktian pemimpin sekolah sabat mengulangi hal ini. Namun sangat sering kita menyaksikan acara yang dimulai terlambat menunggu sampai tempat duduk dianggap sudah „terisi“ baru acara dimulai. Padahal dengan jelas pada buku acara menunjuk pada satu waktu tertentu. Keadaan ini bukan hanya terjadi di satu tempat tapi telah menjadi pemandangan umum di banyak jemaat dan acara. Acara molor beberapa menit malahan sampai hitungan jam. Pertanyaan yang muncul adalah apakah „acara dimulai“ menunggu hadirin ataukah hadirin menunggu „acara dimulai“. Seyogyanya suatu acara dimulai, adalah menurut waktu yang sudah direncanakan. Untuk hal seperti ini masalah terletak kepada pembawa acara untuk konsisten: Mau memulai acara atau tidak mau memulai acara, tanpa mempedulikan jumlah yang hadir. Kalau sudah ditentuka waktunya untuk dimulai tidaklah perlu menanti sampai semua kursi telah terisi. Disini terjadi proses pembelajaran bagi jemaat untuk belajar disiplin dan menghormati waktu.
Mendapat mamfaat rohani secara penuh, utuh selama waktu perbaktian hanyalah oleh mengikuti semua acara kebaktian dari mula secara penuh. Datang mendahului acara akan memberi kesempatan anggota jemaat mempersiapkan hati untuk mengikuti acara demi acara dengan hikmat. Itu juga memberi kemudahan untuk memilih tempat yang menyenangkan lalu berkesempatan komunikasi dengan saudara-saudara seiman lainnya dan mengucapkan selamat hari Sabat.
Mau terlambat atau sebaliknya tepat waktu tergantung dari kebiasaan. Di salah satu kepulauan Pacific terlambat satu jam itu masih terhitung on time. Nanti kalau anda tiba melebihi waktu tersebut barulah masuk kategori terlambat.
Di kalangan yang mengutamakan waktu, lima menit lewat berarti anda sudah terlambat, 10 menit anda tak muncul menandakan anda tak menghargai diri anda sendiri, melebihi jumlah itu artinya anda telah merampas waktu orang lain.
Pada dasarnya semua orang tidak mau terlambat. Berbagai cara dibuat orang agar supaya boleh hadir pada waktunya. Mulai dari meng-set jam tangan ataupun jam dinding dirumah 10 menit kedepan sampai kepada meminta orang lain untuk mengingatkan namun yang terjadi adalah: ….. tetap saja kita terlambat. Mengapa? Karena yang perlu di set bukanlah jam tangan, tetapi pikiran. Yaitu berpikir maju untuk tidak mau terlambat. Dengan demikian akan ada tindakan sungguh-sungguh yang dilakukan dari saat kesaat supaya tidak terlambat yang kemudian akan berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini kelak masuk menjadi bagian dari tabiat. Selanjutnya tabiat yang baik akan sangat berperan dalam mendatangkan keuntungan di depan.
Ungkapan „biar lambat asal selamat“ sudah jarang
digunakan orang dewasa ini. Kelambatan
umumnya membawa bencana. „Kalau saja
sejak dulu kita telah melawat, kalau saja sejak dulu kita sudah
menasihati, kalau saja sejak dulu kita
sudah mulai dirikan bangunan Gereja ...
adalah kalimat-kalimat penyesalan yang mempersalahkan kebiasaan lambat. Untuk meraih kemajuan perlu ada perubahan untuk bertindak cerdas,
cepat dan tepat. BAIT
Budayakan membaca sejak dini”, sering ditampilkan di sudut ruang perpustakaan di Indonesia. Kalimat ini, dalam format yang panjang ataupun singkat seperti di atas, dapat saja menunjukkan kondisi bahwa masyarakat memang belum berbudaya membaca. Di lain pihak, kalimat ini juga merupakan motivasi dari pihak yang berkompeten (pemerintah atau orang tua) kepada pihak bersangkutan (anak sekolah) untuk memiliki kebiasaan yang menguntungkan di masa depan.
Memang, di beberapa tempat di
Selain kumpulan kata di atas, ada lagi
ungkapan yang bersifat saran dan harapan, seperti “Budayakan membuang sampah
pada tempatnya” atau “budayakan hidup sehat”. Dari beberapa kalimat tadi, kita
bisa tarik simpulan sederhana bahwa semua hal-hal baik harus dibudayakan. Ya,
tentu saja. Hanya saja, tidak mudah untuk membudayakan kebiasaan-kebiasaan yang
baik. Sebagai contoh lain; maaf, umumnya WC di airport
Kebiasaan yang baik perlu dibangun. Anak-anak belum sadar pentingnya membaca. Orang orang dewasalah yang harus memberi tuntunan. Mereka harus dibangunkan dari ‘ketidaksadarannya’ akan nilai sebuah kebiasaan membaca. Kelak, mereka sendiri yang akan menikmati manfaatnya yang tidak ternilai itu. Jika sudah dibangunkan dari ketidaksadaran dan menjadikannya sebagai suatu kebiasaan, maka secara pribadi kebiasaan itu akan dihidupkan. Mungkin saja, orang lain akan dituntun pada kebiasaan yang sama.
Budaya merupakan nilai-nilai yang berlaku dalam satu komunitas. Jika kebiasaan membaca, membuang sampah ataupun hidup sehat belum bisa berlaku secara komunal karena ketidak-sadaran komponen masyarakat lainnya, hidupkan saja kebiasaan yang baik secara personal. Tidak usah berharap orang lain harus melakukan apa yang kita lakukan. Sambil melakukan, kita sedang membagikan pengalaman kepada orang di sekitar.
Lingkungan keluarga adalah kelompok masyarakat
terdekat yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebiasaan kita. Sebelum ke
lingkungan yang lebih besar, di lingkungan terdekatlah budaya dibangun. Apa
saja! Apakah itu budaya membaca, budaya kerja, budaya kedisiplinan, budaya
kerja keras atau budaya hidup sehat, semua itu adalah nilai-nilai yang perlu
dihidupkan. Intinya, lakukan yang baik
dan jauhilah yang jahat, sebagaimana natz Firman Tuhan dalam Mazmur 34:14; maka “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala
akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus,” Filipi 4:7. (*_*)
AMBRUKNYA TEORI EVOLUSI
Oleh : Pdt. Sammy Lee
Secara singkatnya Teori Evolusi adalah: Milyardan tahun yang lalu, terjadilah ledakan
di matahari. Dari ledakan itu terpental
bagian-bagian dari matahari yang beredar diangkasa mengelilingi matahari itu
berupa gas-gas dan benda-benda lain sebagai bagian dari matahari itu. Masing-masing beredar mengelilingi sang induk
asal muasal mereka itu, yaitu matahari.
Di alam ini ada milyaran matahari yang
sekarang dikelilingi planet-planet, satelit-satelit dan meterorites serta
asteroids berjuta-juta banyaknya sekelilingnya, yang disebut gugusan Tata Surya
atau Solar System. Di gugusan galaxy,
atau bima sakti kita saja, menurut ahli bintang yang bona fide, semuanya
setuju mengatakan ada paling sedikit 100
milyard tata surya.
Sedangkan diseluruh alam, juga diperkirakan ada
sekitar 100 milyard galaxy atau bima sakti.
Nah, jangan tanyakan kepada para professor teroi
Evolusi itu bagaimana galaxies itu tercipta, atau bagaimana 100 milyard tata
surya yang ada di galaxy kita ini tercipta, pasti dia akan marah. Bukankah harus juga terjadi 100 milyard
ledakan yang menghasilkan 100 milyard tata surya itu? Mar mana buktinya ledakan-ledakan diseluruh
ala mini yang harus ada ratusan milyard jumlahnya?
Marilah kita terima saja teori sang professor itu
dengan mengatakan OK, Prof, jadi milyardan tahun yang lalu terjadi ledakan di
matahari, dan bumi kita yang asalnya sebagian dari tubuh matahari itu
terpelanting keluar, dan karena gaya tarik menarik matahari berterbangan
berputar dalam orbitnya mengelilingi pusatnya yaitu matahari. Lalu pikirkan menurut kata mereka setelah
milyardan tahun kemudian, gas dan benda padat lainnya itu yang tadinya tentu
sangat panas dan berupa cairan atau uap, mulai membeku dan menjadi seperti
keadaan planet kita ini.
Milyardan tahun kemudian dari lumpur yang sudah
dingin itu dipermukaan bumi ini, tiba-tiba muncul makhluk-makhluk yang pertama
yang sangat sederhana, microcosms, seperti trilobites, amuba dan
lain-lain. Makhluk-makhluk sederhana
yang kecil ini setelah hidup beberapa lama, mulai mengadakan mutasi dan
berkembang menjadi lebih kompleks dan sempurna.
Berkembang menjadi lebih baik dan lebih bisa bertahan dialam ini, dengan
sistim atau hukum: The Survival of the Fittest.
Jadi dari sekian banyak makhluk hidup yang sederhana pertama itu,
beberapa berkembang terus menjadi lebih baik, lebih tinggi dan lebih kompleks
dan sempurna, lebih Fit untuk bertahan.
Begitu seterusnya sehingga akhirnya kita manusia ini adalah makhluk-makhluk
yang paling Fit dan sempurna dibandingkan makhluk yang lainnya, seperti leluhur
kita yang paling dekat, yaitu monyet.
Buktinya? Well, mereka telah menemukan rahang
seekor kera yang sangat mirip dengan manusia, tulang batok kepalanya ditempat
lain, satu tulang tangan dan kaki, dan beberapa gigi dan tulang-tulang
rusuknya. Bagi para professor Evolusi
itu, penemuan itu sudah cukup membuktikan teori mereka bahwa manusia itu
berkembang (evolved) dari monyet menjadi manusia.
Yang mengherankan dalam teori ini adalah, bagaimana
caranya nenek moyang kita itu, yaitu missing link diantara monyet dan manusia,
yang rahang, batok dan potongan-potongan tulang lainnya diketemukan, bisa
menentukan, dengan pola “Survival of the Fittest”, tentunya, bagaimana dia
berkembang atau develop/evolve menjadi manusia, yang sampai sekarang belum
diketemukan bukti itu bisa terjadi lagi, yaitu monyet setelah beberapa juta
tahun berubah jadi manusia.
Sampai sekarang monyet adalah monyet, binatang
bisu, bodoh dan tidak mungkin diajar menjadi seperti manusia biar dia hidup
berapa juta tahun pun dan dilatih terus.
Seekor monyet, betapa pun dilatih dan dilatih,
tidak akan pernah dapat menggunakan keyboard computer ini untuk menulis satu
lembar surat, apalagi membuat sebuah buku seperti anda dan saya.
Sebenarnya kalau teori ini benar, maka harus
diketemukan didalam penggalian arkeologi, ribuan kalau tidak jutaan,
tulang-tulang yang lengkap dari makhluk yang disebut missing link ini. Karena pasti mereka itu lebih developed,
lebih berkembang dan lebih fit untuk survive dibandingkan dengan
makhluk-makhluk lainnya yang lebih rendah dan sederhana.
Mengapa ada begitu banyak tulang-tulang monyet,
tulang-tulang anjing, fosil binatang lain, seperti kuda, buaya, ikan, bahkan
trilobites yang mereka katakan lebih sederhana dan lebih jauh dibawah susunan
perkembangan makhluk-makhluk itu sampai mencapai taraf manusia, yang bisa
diketemukan. Tapi semua tulang belulang
atau fossil itu berbeda satu dengan lainnya.
Kemana jutaan tulang atau fossil itu yang harus ada diantara dua binatang
yang berlainan diantara satu jenis atau species dengan yang lainnya. Kenapa hanya ada missing link antara monyet
dan manusia, dan hanya satu dua potong tulangnya yang tidak lengkap. Mereka hanya bisa katakan, tunggulah, nanti
juga pasti diketemukan.
Padahal binatang-binatang yang dianggap jauh lebih rendah dan sederhana itu sangat
banyak diketemukan tulang-tulang atau fosilnya.
Sekarang mari kita lihat teori Creationism atau
Penciptaan.
Secara
singkatnya Teori Creationisme atau Penciptaan adalah: Pada mula pertama ada Allah. Maka Allah menciptakan langit dan bumi dan
sekalian isinya dengan penuh kuasa, kebijaksanaan dan kasih. Dia hanya berkata dan terjadilah bumi ini dan
isinya termasuk semua makhluk, tumbuh-tumbuhan, air, udara, dan binatang serta
manusia. Semuanya menurut jenisnya,
kemudian beranak dan berkembang biak memenuhi bumi ini.
Memang terjadi ledakan juga dalam teori creationism
pada mulanya. Terjadi sebuah “big
bang”. Yaitu ketika Tuhan Allah berkat
pada mula pertamanya “hendaklah ada terang” maka terjadilah ledakan enerji yang
luar biasa, dan terciptalah terang diatas dunia ini.
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan
bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong;
gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas
permukaan air. Berfirmanlah Allah:
"Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu
dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu
malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.
Pada hari yang kedua terjadi ledakan lagi ketika
enerji Tuhan Allah menciptakan bentangan dan memisahkan air dengan darat. Dan demikian seterusnya sehingga hari yang
keenam dimana terjadi ledakan enerji yang paling hebat.
Sekarang yang paling menarik adalah hari keenam
dimana binatang-binatang didarat semuanya diciptakan dengan kuasa Allah dan
ledakan enerji yang tak dapat kita bayangkan hebatnya:
Dan yang lebih mengesankan lagi adalah, bahwa
manusia itu diciptakan beda dari binatang-binatang yang lainnya semua. Sebab itu manusia, lain dari binatang manapun
termasuk yang paling dianggap cerdik, dan paling menyerupai manusia, yaitu
monyet.
Mengenai perbedaan ini bisa kita baca dalam
ayat dan seterusnya:
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan
manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di
laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas
segala binatang melata yang merayap di bumi."
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut
gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan
diciptakan-Nya mereka.
Allah
memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan
bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas
ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang
merayap di bumi."
Jadi menurut Alkitab, alam semesta ini termasuk
binatang dan manusia, diciptakan oleh Tuhan Allah yang mahakuasa dalam tempo
enam hari, dan bukan milyardan tahun lamanya, sekitar 6000 tahun yang lalu.
Mengapa saya lebih percaya kepada Teori
Creationisme dibandingkan dengan Evoutionisme?
Karena buku-buku tentang Evolusi, sejak ditulis
pertama kalinya oleh Charles Darwin hampir 200 tahun yang lalu, telah diralat
dan diralat, ditambahkan dan dikurangi, direvisi dan direvisi, berulang kali
dan banyak kali sampai hari ini.
Tapi Alkitab yang mencatat penciptaan alam ini
sudah ada selama 3500 tahun, dan ada copy yang tertua sampai sekarang yaitu
tertulis diatas kulit binatang, dan simpin di Museum di Berlin sampai sekarang,
telah berumur paling sedikit 2200 tahun, dan disebut Gulungan-gulungan Laut
Mati (Dead Sea Scrolls), tidak pernah diralat atau direvisi sampai sekarang,
secara contentnya. Hanya kata-katanya
berubah sesuai dengan perubahan zaman dan perkembangan linguistics atau ilmu
bahasa yang digunakan manusia dan berubah sesuai dengan kemajuan zaman.
Diperlukan iman yang lebih besar untuk mempercayai
teori evolusi daripada teori penciptaan.
Narasi dalam Alkitab ini didukung oleh kisah penciptaan dalam Al Quran, dan juga dalam aksara Tiongkok kuno serta tulisan dari orang-orang yang dianggap nabi oleh bangsa itu, yaitu seperti Laozi dan Konghucu, atau Confucius.
Perhatikan tulisan Laozi yang hidup sezaman dengan nabi Daniel yaitu di tahun 500-an SM (BC) dibawah ini:
Sesuatu yang misterius telah terjadi, Telah berada sebelumnya langit dan bumi; didalam kesunyian dan kehampaan, Berdiri sendiri dan tidak pernah berubah, tetap hadir dalam gerakan yang berputar. Mungkin Dia adalah asal mulanya berjuta-juta benda, Aku tidak mengetahui namanya. Aku sebutkan saja Tao (Firman atau Jalan). Karena tidak ada kata-kata yang lain yang dapat kugunakan, Aku menamakannya "Yang Mahakuasa." -- Gia Fu Feng and Jane English, Translation of Lao Zi, Tao Te Ching (Toronto: Vintage Books, Random House, Inc. 1989), Ch. 25, p. 25. (Dao atau Tao dalam bahasa Tionghoa adalah “Jalan/Firman/Ajaran/Kebenaran”. Bukankah sangat mengherankan bahwa Yesus mengaku sebagai “Jalan dan Kebenaran dan Hidup”?
Sekarang
bandingkan itu dengan ayat Alkitab dalam Yohanes 1:1-3.
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Yang terakhir, menurut para saintis penganut teori evolusi, terjadi perkembangan atau evolusi dari makhluk yang paling sederhana menjadi makhluk yang paling tinggi dan kompleks yaitu manusia. Tapi tahukah anda bahwa sel-sel pada binatang yang paling sederhana seperti amoeba atau cacing sama komplikasi dan dahsyatnya dengan sel-sel pada binatang yang dianggap jauh lebih tinggi dalam tingkatannya bahkan sel-sel manusia sekalipun?
Adalah lebih mudah untuk mempercayai bahwa bagian-bagian dan onderdil dari sebuah pesawat Boeing 747 atau Airbus 380 terjadi sendirinya akibat ledakan digudang penyimpanan bahan-bahan logam, plastic, kulit, kain, kayu dll, dan akhirnya salah satu tumpukannya setelah jutaan tahun berubah dengan sekonyong-konyong jadi pesawat terbang itu.
Chromosomes yang terdapat dalam manusia hanya 23 pasang, sedangkan dalam monyet ada 24 pasang. Dan dalam burung perkutut 39 pasang. Lebih hebat lagi dalam ikan mas atau carp terdapat 52 pasang, dan didalam sel semacam tanaman pakis (sayur paku) yang bernama “pakis lidah ular biludak” (adders-tongue fern atau Ophioglossum reticulatum) terdapat 600 pasang chromosomes? Dan bahwa kondisi binatang yang lebih dekat dengan manusia sehingga selalu dijadikan kelinci percobaan bukanlah monyet tapi tikus?
Puji
Tuhan karena Dia menjadikan mata kita celik dan bisa melihat kuasa,
kebijaksanaan dan kasihNya menciptakan dan mengatur serta menyediakan semua
keperluan makhlukNya dialam ini. ***
Visi: Menyebarkan pekabaran tiga malaikat khususnya di Indonesia Kawasan Timur dan untuk mempersiapkan umat pada kedatangan Kristus yang kedua kali Misi: BAIT Ministry sebagai suatu wadah perpanjangan tangan GMAHK di Indonesia Kawasan Timur mengusahakan mendorong berkembangnya pekerjaan Tuhan secara maksimal melalui berbagai bidang pelayanan