BAIT Ministry

Sabtu, 28 Agustus 2021

PENGARUH KEGIATAN AKTIFITAS PEMUDA DIGEREJA

 


PENGARUH KEGIATAN AKTIFITAS PEMUDA DIGEREJA

Memotivasi Kelas-kelas kemajuan dan mempersiapkan Pemimpin-pemimpin Gereja masa depan.

Disadur kembali oleh: Pdt. D. Politon

Sumber: Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Indonesia – Perintisan dan Pengembangannya

Penyusun: Pdt. Emil H. Tambunan, PhD

 

Dengan bertambahnya anggota-anggota di Lowu, Ratahan, kemajuan-kemajuan barupun muncul di tengah-tengah umat, antara lain dengan menonjolnya mereka dalam kebersihan, kerjajinan bekerja dan rumah tangga yang ‘harmonis’ dibandingkan dengan penduduk setempat. Umat Advent pada waktu itu  masih kurang dalam pendidikan tapi tampak lancar menghafalkan ayat-ayat Alkitab dan mengajarkannya kepada orang lain.

 

Akhirnya kumpulan umat Advent tersebut mulai berkembang terlebih orang-orang mudanya. Pada waktu itulah seluruh anggota jemaat mulai aktif  dan mengambil bagian dalam menyelesaikan tuntutan kelas-kelas kemajuan yang kita kenal sekarang dengan Pathfinder/Master Guide.

 

Ada banyak kegiatan penting dalam kelas-kelas tersebut seperti tuntutan untuk menghafal 10 Perintah Allah dalam Keluaran 20:8-11, Hari Penghakiman dan Pekabaran Tiga Malaikat ke seluruh dunia dalam Wahyu 14:6-12, Doa Tuhan Yesus dalam matius 6, Kasih dalam I Korintus 13, janji Tuhan Yesus dalam Yohanes 14:1-3 dan lain-lain. Kemudian menyusul lagi pelajaran-pelajaran yang lain tentang alam, perbintangan, ketrampilan tangan, tali-temali, mencari jejak dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan seperti ini sangat menonjol dikalangan Pemuda Advent pada waktu itu dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan pemuda dari gereja-gereja Kristen lain di sekitar Ratahan. Latihan paduan suarapun diaktifkan sehingga tidak heran kita sering mendengar suara-suara koor yang harmonis dan menyentuh hati dari anggota paduan suara dari wilayah Ratahan dan sekitarnya. Orang muda dan orangtua sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut di atas demikian juga dengan penginjilan dan bersaksi bagi orang-orang disekeliling desa tersebut.

 

Dengan banyaknya kegiatan yang beragam dari kelas-kelas kemajuan ini, maka mulailah pandangan orangtua mulai terbuka dengan dunia luar untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke luar wilayah desa bahkan sampai ke luar negeri. Ada yang mengirimkan anak-anak mereka ke Singapura dimana Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh telah membuka Seminari untuk mendidik pemuda-pemuda menjadi guru-guru dan penginjil penginjil di kemudian hari, diantaranya adalah: Marinus Onsoe, Matius Malingkas, A. Londa, Lukas Ngongolay, Robert Rolangon, Servius R. Rantung pada tahun 1922 dan A. Pasuhuk pada tahun 1923 lalu menyusul Adolf Sakul pada tahun 1927.

 

Setelah pemuda-pemuda ini menyelesaikan pendidikan mereka 2 atau 3 tahun berikutnya, merekapun kembali ke kampung halaman mereka dan mengajarkan kebenaran kepada sanak saudara mereka.

 

Bpk. A. Londa kemudian dikenal sebagai seorang yang telah membuka pekerjaan di daerah Tetey, Tonsea pada tahun 1925 (Pernah dimuat di Edisi Bait beberapa waktu lalu – red), Marinus Onsoe kemudian bekerja di pulau Jawa sementara yang lain dibeberapa tempat sesuai dengan tugasnya masing-masing. Beberapa di antara mereka kemudian menjadi pimpinan-pimpinan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh seperti Marinus Onsoe menjadi Bendahara, A. Londa menjadi Ketua Daerah, dan juga A. Pasuhuk. Sedangkan tamatan-tamatan dari Singapura waktu itu seperti Alex Rantung menjadi ketua uni Indonesia Kawasan Timur dan kemudian menjadi Sekretaris Divisi Asia Pasific Selatan pada tahun 1996 yang lalu. Kemudian Servius Rantung, Welly Pasuhuk yang pernah menjadi Editor di Percetakan Advent Indonesia di Bandung, kemudian dokter Edwin Pasuhuk adalah putera Pdt. A. Pasuhuk, sedangkan Paul Sakul pernah menjadi Pimpinan Teknis di Percetakan Advent Indonesia, kemudian yang menjadi Wakil Percetakan Advent Indonesia untuk urusan buku-buku terbitan percetakan itu ke seluruh wilayah Indonesia Kawasan timur yang berpusat di Manado adalah Adolf Sakul. Sekilas tentang Adolf setelah tamat dari Singapura pada tahun 1930 ia kembali ke Lowu. Langkah pertama yang dibuatnya adalah menobatkan ayahnya yang memiliki rumah berhala di belakang rumahnya. Adolf yang baru tamat dan memiliki semangat serta iman yang masih segar dan menyala-nyala kemudian mengangkat rumah berhala ayahnya dan melemparkannya ke tengah jalan. Melihat sikap Adolf yang aneh itu, pemerintah Belanda menuduh Adolf melanggar adat dan agama leluhurnya, tetapi berkat pimpinan Tuhan, Adofl telah meyakinkan pihak pemerintah dan juga ayahnya sendiri bahwa “Satu-satunya ilah yang benar adalah Allah sang Pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Di atas kuasa-Nyalah segala yang ada. Ia adalah Allah yang Pengasih dan Penyayang. Kepada-Nyalah patut diberi hormat dan puji.” Kata Adolf meyakinkan mereka.

 

TAHUKAH ANDA?

Bahwa kegiatan-kegiatan seperti mengikuti kelas-kelas kemajuan di beberapa gereja telah mulai berkurang saat ini? Meskipun tidak terlalu signifikan tapi sangat berpengaruh terhadap orang-orang muda kita yang sudah mulai lebih tertarik dengan kegiatan-kegiatan di luar aktifitas gerejani. Itulah sebabnya sangat dianjurkan agar jemaat-jemaat sekarang mulai mengaktifkan kembali kegiatan kelas-kelas kemajuan karena ini akan membekali generasi muda kita untuk kepemimpinan masa depan seperti yang kita telah ketahui melalui sejarah diatas….  Mari aktifkan kegiatan kelas-kelas kemajuan di gereja kita masing-masing untuk mempersiapkan orang muda bagi pelayanan pekerjaan Tuhan.


0 komentar:

Posting Komentar