PENGARUH KEGIATAN AKTIFITAS PEMUDA DIGEREJA
Memotivasi Kelas-kelas kemajuan dan mempersiapkan
Pemimpin-pemimpin Gereja masa depan.
Disadur kembali oleh: Pdt.
D. Politon
Sumber: Gereja
Masehi Advent Hari Ketujuh di Indonesia – Perintisan dan Pengembangannya
Penyusun: Pdt.
Emil H. Tambunan, PhD
Dengan
bertambahnya anggota-anggota di Lowu, Ratahan, kemajuan-kemajuan barupun muncul
di tengah-tengah umat, antara lain dengan menonjolnya mereka dalam kebersihan,
kerjajinan bekerja dan rumah tangga yang ‘harmonis’ dibandingkan dengan
penduduk setempat. Umat Advent pada waktu itu
masih kurang dalam pendidikan tapi tampak lancar menghafalkan ayat-ayat
Alkitab dan mengajarkannya kepada orang lain.
Akhirnya kumpulan umat
Advent tersebut mulai berkembang terlebih orang-orang mudanya. Pada waktu
itulah seluruh anggota jemaat mulai aktif
dan mengambil bagian dalam menyelesaikan tuntutan kelas-kelas kemajuan
yang kita kenal sekarang dengan Pathfinder/Master Guide.
Ada banyak kegiatan
penting dalam kelas-kelas tersebut seperti tuntutan untuk menghafal 10 Perintah
Allah dalam Keluaran 20:8-11, Hari Penghakiman dan Pekabaran Tiga Malaikat ke
seluruh dunia dalam Wahyu 14:6-12, Doa Tuhan Yesus dalam matius 6, Kasih dalam
I Korintus 13, janji Tuhan Yesus dalam Yohanes 14:1-3 dan lain-lain. Kemudian
menyusul lagi pelajaran-pelajaran yang lain tentang alam, perbintangan,
ketrampilan tangan, tali-temali, mencari jejak dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan
seperti ini sangat menonjol dikalangan Pemuda Advent pada waktu itu
dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan pemuda dari gereja-gereja Kristen lain di
sekitar Ratahan. Latihan paduan suarapun diaktifkan sehingga tidak heran kita
sering mendengar suara-suara koor yang harmonis dan menyentuh hati dari anggota
paduan suara dari wilayah Ratahan dan sekitarnya. Orang muda dan orangtua
sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut di atas demikian
juga dengan penginjilan dan bersaksi bagi orang-orang disekeliling desa
tersebut.
Dengan banyaknya kegiatan
yang beragam dari kelas-kelas kemajuan ini, maka mulailah pandangan orangtua
mulai terbuka dengan dunia luar untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke luar
wilayah desa bahkan sampai ke luar negeri. Ada yang mengirimkan anak-anak
mereka ke Singapura dimana Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh telah membuka
Seminari untuk mendidik pemuda-pemuda menjadi guru-guru dan penginjil penginjil
di kemudian hari, diantaranya adalah: Marinus Onsoe, Matius Malingkas, A.
Londa, Lukas Ngongolay, Robert Rolangon, Servius R. Rantung pada tahun 1922 dan
A. Pasuhuk pada tahun 1923 lalu menyusul Adolf Sakul pada tahun 1927.
Setelah pemuda-pemuda ini
menyelesaikan pendidikan mereka 2 atau 3 tahun berikutnya, merekapun kembali ke
kampung halaman mereka dan mengajarkan kebenaran kepada sanak saudara mereka.
Bpk. A. Londa kemudian
dikenal sebagai seorang yang telah membuka pekerjaan di daerah Tetey, Tonsea
pada tahun 1925 (Pernah dimuat di Edisi Bait beberapa waktu lalu – red),
Marinus Onsoe kemudian bekerja di pulau Jawa sementara yang lain dibeberapa
tempat sesuai dengan tugasnya masing-masing. Beberapa di antara mereka kemudian
menjadi pimpinan-pimpinan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh seperti Marinus
Onsoe menjadi Bendahara, A. Londa menjadi Ketua Daerah, dan juga A. Pasuhuk.
Sedangkan tamatan-tamatan dari Singapura waktu itu seperti Alex Rantung menjadi
ketua uni Indonesia Kawasan Timur dan kemudian menjadi Sekretaris Divisi Asia
Pasific Selatan pada tahun 1996 yang lalu. Kemudian Servius Rantung, Welly
Pasuhuk yang pernah menjadi Editor di Percetakan Advent Indonesia di Bandung,
kemudian dokter Edwin Pasuhuk adalah putera Pdt. A. Pasuhuk, sedangkan Paul
Sakul pernah menjadi Pimpinan Teknis di Percetakan Advent Indonesia, kemudian
yang menjadi Wakil Percetakan Advent Indonesia untuk urusan buku-buku terbitan
percetakan itu ke seluruh wilayah Indonesia Kawasan timur yang berpusat di
Manado adalah Adolf Sakul. Sekilas tentang Adolf setelah tamat dari Singapura
pada tahun 1930 ia kembali ke Lowu. Langkah pertama yang dibuatnya adalah
menobatkan ayahnya yang memiliki rumah berhala di belakang rumahnya. Adolf yang
baru tamat dan memiliki semangat serta iman yang masih segar dan menyala-nyala
kemudian mengangkat rumah berhala ayahnya dan melemparkannya ke tengah jalan.
Melihat sikap Adolf yang aneh itu, pemerintah Belanda menuduh Adolf melanggar
adat dan agama leluhurnya, tetapi berkat pimpinan Tuhan, Adofl telah meyakinkan
pihak pemerintah dan juga ayahnya sendiri bahwa “Satu-satunya ilah yang benar
adalah Allah sang Pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Di atas
kuasa-Nyalah segala yang ada. Ia adalah Allah yang Pengasih dan Penyayang.
Kepada-Nyalah patut diberi hormat dan puji.” Kata Adolf meyakinkan mereka.
TAHUKAH ANDA?
Bahwa kegiatan-kegiatan
seperti mengikuti kelas-kelas kemajuan di beberapa gereja telah mulai berkurang
saat ini? Meskipun tidak terlalu signifikan tapi sangat berpengaruh terhadap
orang-orang muda kita yang sudah mulai lebih tertarik dengan kegiatan-kegiatan
di luar aktifitas gerejani. Itulah sebabnya sangat dianjurkan agar
jemaat-jemaat sekarang mulai mengaktifkan kembali kegiatan kelas-kelas kemajuan
karena ini akan membekali generasi muda kita untuk kepemimpinan masa depan
seperti yang kita telah ketahui melalui sejarah diatas…. Mari aktifkan kegiatan kelas-kelas kemajuan
di gereja kita masing-masing untuk mempersiapkan orang muda bagi pelayanan
pekerjaan Tuhan.








0 komentar:
Posting Komentar